Artikel
Casmudi
Memanfaatkan Ekonomi Digital

MEMBANGUN EKONOMI DIGITAL SEBAGAI “PRIME MOVER” EKONOMI INDONESIA ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Sungguh, perkembangan era digital begitu deras sekarang ini. Oleh sebab itu, sistem ekonomi yang berkembang di masyarakat mengalami perubahan. Ekonomi digital kian digandrungi seiring perkembangan era Revolusi Indusri 4.0. Bahkan, ekonomi digital telah menjadi “prime mover” ekonomi Indonesia.

Pernyataan tersebut benar adanya. Sistem ekonomi digital telah merubah wajah ekonomi Indonesia. Apalagi, visi Indonesia dan komitmen Pemerintah menjadi negara ekonomi  terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (SPNBE) atau Road Map e-Commerce 2017-2019.

Perlu diketahui bahwa Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce) mencakup program pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, pendidikan Sumber Daya Manusia (SDM), infrastruktur komunikasi, logistik, dan keamanan siber. Dan, Road Map E-Commerce memuat 7 (tujuh) pilar utama untuk membentuk ekosistem yang kondusif, yaitu 1) pendanaan, 2) perpajakan, 3) perlindungan konsumen, 4) pendidikan dan SDM, 5) logistik, 6) infrastruktur komunikasi, dan 7) keamanan siber. Ditambah dengan satu pilar pendukung, yaitu pembentukan manajemen pelaksana.

Ekonomi Digital

Kini, Indonesia sedang menghadapi era Revolusi Industri 4.0 atau disruptive technology.  Revolusi Industri 4.0 melahirkan ekonomi digital. Bukti paling mencolok adalah digitalisasi. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa digitalisasi telah meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Digitalisasi membuka lapangan kerja baru yang belum pernah ada. Digitalisasi juga bisa meningkatkan produktifitas usaha karena  penggunaan data lebih efisien.

Perlu diketahui bahwa salah satu tanda digitalisasi adalah berlakunya vertical networking. Di mana, jaringan tidak lagi memiliki sekat-sekat atau hirarki. Serta, diikuti horizontal integration yang mengutamakan output, inovasi inheren dan melahirkan fenomena baru. Juga, muncul konsep sharing economyInternet of Things, e-commerce, finansial technology, Artificial Intelligence dalam berbagai lini kehidupan.

Hal yang paling dirasakan dengan adanya digitalisasi adalah lahirnya ekonomi digital yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai informasi, konsep ekonomi digital pertama kali diperkenalkan oleh Don Tapscott (The Digital Economy, 1995). Mempunyai rmakna keadaan sosiopolitik dan sistem ekonomi yang mempunyai karakteristik sebagai sebuah ruang intelijen, meliputi informasi, berbagai akses instrumen, kapasitas, dan pemesanan informasi. Ekonomi digital yang melakukan transaksinya dalam dunia maya sangat cocok dengan apa yang dikatakan oleh Don Tapscott tersebut.

Berdasarkan hasil riset McKinsey Global Institute yang dirilis pada November 2014, ada 5 (lima) teknologi (disruptive technology) yang berpengaruh terhadap  pertumbuhan ekonomi digital. Serta, mampu merubah kondisi sosial di kawasan Asia Tenggara khususnya Indonesia, yaitu: Mobile Internet, Big Data, Internet of Things (IoT), Automation of Knowledge dan Cloud Technology.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan ekonomi digital Indonesia makin bersinar karena faktor koneksi internet. Dan, didukung perkembangan pengguna perangkat digital. Berdasarkan survei tahun 2018 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melansir bahwa pada tahun 2019 jumlah pengguna internet Indonesia sebanyak 171,17 juta jiwa (64,8%) dari total penduduk Indonesia sebanyak 264,16 juta jiwa. Jumlah pengguna internet tersebut menjadi modal besar perkembangan ekonomi digital.

Apalagi, saat kunjungan ke Silicon Valley di Amerika Serikat tahun 2017 lalu, Bapak Presiden Jokowi menegaskan pada tahun 2020 Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Oleh sebab itu, keinginan tersebut perlu didukung pemanfaatan teknologi dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia. SDM Indonesia harus memahami pengetahuan era Revolusi Industri 4.0 seperti Artificial Intellegence (AI), Virtual Reality, dan Big Data Analysis.

Senada apa yang diyakini oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara saat menemani kunjungan Bapak Presiden Jokowi ke Silicon Valley, Amerika Serikat tahun 2017. Saat ditanya tentang perkembangan ekonomi digital oleh petinggi-petinggi perusahaan modal ventura, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara tanpa pikir panjang menyebut bakal ada lima unicorn di Indonesia pada tahun 2019. 

Tumbuh Melesat

Nilai pasar online sungguh luar biasa. Berdasarkan hasil riset Google dan Temasek, GMV (Gross Market Value) di kawasan Asia Tenggara pada 2018 saja mencapai US$ 72 miliar atau sekitar Rp 1.044 triliun dengan kurs Rp 14.500/USD. Terdiri dari transportasi online US$ 8 miliar, media online US$ 11 miliar, jasa travel online US$ 30 miliar dan e-Commerce US$ 23 miliar. Ditambah sektor lain seperti tempat hiburan online, jasa antar makanan, dan lain-lain akan  melonjak menjadi US$ 240 miliar (Rp 3.480 triliun) pada tahun 2025. Bagaimana dengan nilai transaksi online Indonesia? Tahun 2017, orang yang berbelanja online baru 7,4 juta jiwa dengan transaksi Rp 48 triliun. Tahun 2018 naik menjadi 11 juta dengan total transaksi Rp 68 triliun.

Lanjut, total transaksi perdagangan online tahun 2019 diperkirakan akan mencapai Rp 95,48 triliun. Itu baru besaran angka dari perdagangan online atau e-commerce tahun 2019 yang nilai transaksinya diperkirakan mengambil 3,1 persen pasar retail. Transaksi online berbasis teknologi finansial atau fintech mencapai Rp 252 triliun. Tambah, transaksi e-travel, yang diwakili bisnis mobilitas dan perjalanan menyumbang angka Rp 105,798 triliun. 

Pantas saja, pada tahun 2018 adalah milik financial technology (Fintech) dan industri kesehatan. Hal ini berdasarkan preferensi investor yang didapat survey Google dan A.T. Kearney terhadap puluhan pemodal, baik personal maupun institusional (lokal dan global). Angka 64 persen investor lokal lebih senang menanam modal di fintech, 29 persen ke sektor kesehatan, dan sisanya ke sektor lain. Sedangkan, 70 persen investor global memilih menanamkan modal di financial technology (Fintech), 20 persen sektor kesehatan, dan sisanya sektor lain. 

Gurihnya perdagangan online menyebabkan tumbuhnya perusahaan startup. Indonesia sudah mempunyai 4 unicorn yang valuasi bisnisnya 1 miliar dollar Amerika, yaitu: Tokopedia, Gojek, Traveloka dan Bukalapak. Bahkan, unicorn tersebut menggoda perusahaan lain untuk memberikan suntikan dana. Tokopedia adalah salah satu perusahaan e-commerce milik Indonesia yang mendapatkan suntikan dana US$ 100 juta dari Sequoia Capital dan SoftBank. Sequoia Capital adalah pemodal ventura Google dan Apple, sementara SoftBank adalah pemodal Alibaba.

Indonesia patut bersyukur karena Pertumbuhan ekonomi digital dari Pertumbuhan tahunan majemuk (Compound Annual Growth Rate/CAGR) tergolong yang tercepat di dunia, yakni 49% selama 2015-2018. Malah, pertumbuhan e-commerce Indonesia mencapai 78%, melampaui rata-rata pertumbuhan dunia pada angka 14% dan Asia pada angka 28%. Menarik lagi, ekonomi digital di Indonesia terbentuk dari  beragam industri. Bisnis e-commerce, transportasi, finansial perbankan, agrikultur, hingga tata kota ada di Indonesia.

Ekonomi digital telah mengubah landscape ekonomi dunia sebagai “new face” ekonomi global khususnya Indonesia. Bahkan, menurut  laporan McKinsey (2018), ekonomi digital telah memberkian dampak di beberapa area penting, yaitu: 1)  financial benefits, yang memberi banyak manfaat ekonomi bagi ekonomi bangsa. Indonesia sendiri menjadi pasar terbesar untuk e-commerce di Asia Tenggara yang diprediksi senilai 20 milyar dollar di tahun 2022; 2)  job creation yang akan membuka kurang lebih 26 juta pekerjaan baru di tahun 2022; 3)  buyer benefits seperti harga di  e-commerce  lebih murah dari harga offline; 4)  social equality, berakibat pada  kesetaraan gender, inklusi layanan keuangan, pemerataan pertumbuhan dan masalah sosial lainnya.

Perkembangan bisnis online yang dahsyat menjadikan ekonomi digital sebagai “Prime Mover” ekonomi Indonesia. Apalagi, berdasarkan laporan McKinsey menyebutkan bahwa ekonomi digital Indonesia sekarang hampir sama dengan China pada tahun 2010. Hal itu terlihat berdasarkan indikator-indikator seperti penetrasi e-retail, GDP per kapita, penetrasi internet dan  pengeluaran ritel. Nilai transaksi online Indonesia mencapai Rp 47,19 triliun di tahun 2018 (meningkat 281,39% dari realisasi tahun 2017 sebesar Rp 12,37 triliun. Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memproyeksikan nilai pasar ekonomi digital di Indonesia bisa mencapai US$ 100 miliar pada 2025.

Kontribusi ekonomi digital terhadap  Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2017 mencapai  7,3 persen. Padahal, pertumbuhan ekonomi  Indonesia  sendiri tumbuh pada angka 5,1 persen.  Bahkan, melihat perkembangan ekonomi digital Indonesia yang luar biasa, World Market Monitor memproyeksikan ekonomi digital akan menyumbang USD 155 miliar atau 9,5 persen terhadap (PDB) Indonesia pada 2025. Di mana, peningkatan lapangan kerja senilai 35 miliar dolar AS atau 2,1 persen PDB yang akan mendorong produktivitas senilai 120 miliar dolar AS atau 7,4 persen PDB.

Sumber tulisan:

https://investigasi.tempo.co/193/ekonomi-digital-di-indonesia-raksasa-asia-tenggara

https://katadata.co.id/berita/2019/05/29/kembangkan-ekonomi-digital-forbes-sebut-indonesia-macan-baru-asia

https://keuangan.kontan.co.id/news/ekonomi-digital-indonesia-diproyeksi-tembus-us-100-miliar-tahun-2025

https://www.jaringanprima.co.id/id/potensi-ekonomi-digital-di-indonesia

https://www.moneysmart.id/pertumbuhan-ekonomi-digital-di-indonesia-terus-berkembang/

https://www.setneg.go.id/baca/index/ekonomi_digital_the_new_face_of_indonesias_economy

https://www.wartaekonomi.co.id/read201172/potensi-ekonomi-digital-di-indonesia-dalam-revolusi-industri-40.html

 

 



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved