Artikel
Erik Purnama Putra
Destinasi Pariwisata Indonesia

Mencegah Urbanisasi dengan Mengembangkan Desa Wisata

Salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia, adalah besarnya arus urbanisasi dari desa ke kota. Kota-kota besar, khususnya Jakarta sebagai ibu kota negara selalu menjadi jujugan favorit para pendatang yang mengadu nasib.

Usai Lebaran 2019, misalnya, Jakarta kedatangan sekitar 71 ribu pendatang baru dari berbagai daerah yang mencoba peruntungan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya. Tidak sedikit para pencari kerja itu yang tergolong berpendidikan rendah. Namun, banyak pula mereka yang merupakan pemegang gelar sarjana juga memilih 'hijrah' ke Ibu Kota demi mendapatkan pekerjaan layak. Hal itu secara tidak langsung membuat mereka yang berusia produktif harus meninggalkan kampung halamannya.

Kalau mereka tetap tinggal di desa, pekerjaan dan upah layak yang diinginkan rasanya sulit terpenuhi. Apalagi bagi mereka yang memiliki pendidikan tinggi. Di samping minimnya ketersediaan lapangan kerja, juga kadang pemuda yang menempuh jenjang perkuliahan hingga mendapat gelar sarjana malah bingung ketika ingin mengabdikan dirinya di kampung sendiri.

Alih-alih ingin mengembangkan desa tempatnya tinggal, yang terjadi malah ia bisa berstatus pengangguran lantaran tenaga dan pikirannya tidak terpakai. Karena itu, fenomena urbanisasi menjadi hal lumrah yang sulit dielakkan.

Akhirnya, orang-orang yang masuk usia produktif plus berpendidikan berkumpul di Jakarta dan kota besar lainnya, yang membuat wilayah ini semakin berkembang pesat. Di sisi lain, desa yang seharusnya perlu mendapatkan perhatian berlebih dalam hal pembangunan malah ditinggalkan.

Mengembangkan desa

Ibu kota, kota besar, dan wilayah urban lain selama ini seolah menawarkan berbagai peluang menggiurkan hingga mampu menarik perhatian warga dari seluruh daerah untuk mendatanginya dengan tujuan mengadu nasib. Ada anggapan seolah-olah dengan berpindah ke kota, seseorang bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik dan penghasilan lebih besar daripada di desa.

Anggapan itu sah-sah saja diyakini. Namun, kadang hal itu tidak sepenuhnya benar juga. Kalau memiliki keterampilan dan berpendidikan tinggi, besar kemungkinan akan mendapatkan gaji tinggi. Namun, bagi yang hanya lulusan SMA ke bawah dan hanya mengandalkan kemampuan fisik dalam bekerja, sudah dijamin orang itu akan mendapatkan upah rendah atau maksimal sesuai upah minimum provinsi (UMP) DKI.

Di sinilah menariknya bagi semua orang untuk tidak terlalu silau mengejar impian bekerja di kota besar. Pasalnya, ternyata di desa pun banyak potensi yang bisa digarap dan dikembangkan untuk memajukan wilayah hanya dengan berbekal sedikit sentuhan dan kreativitas.

Tengok saja apa yang terjadi di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang saat ini menjadi desa unggulan pariwisata nasional. Dahulu, Desa Ponggok dikenal sangat miskin dan masyarakatnya hanya memanfaatkan sumber air untuk dijadikan kolam penangkaran ikan. Tentu saja hasil yang didapat tidak seberapa, karena peternakan ikan difungsikan sebagai tambahan pendapatan warga.

Titik balik Desa Ponggok terjadi setelah ada beberapa pemuda yang tergerak untuk mengembangkan desanya, yang berinisiatif mendirikan badan usaha milik desa (BUMDes) Tirta Mandiri Ponggok pada 2009. Dengan digawangi Joko Winarno yang kini menjadi direktur BUMDes Tirta Mandiri, ia berupaya untuk menjadikan kolam ikan sebagai kekayaan alam di desanya agar bisa menjadi sumber penghidupan bagi warga desa.

Desa Ponggok memang letaknya berada di cekungan di antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi, yang membuat desa tersebut dianugerahi sumber air abadi. Tidak mengherankan, di Desa Ponggok dan daerah sekitarnya banyak ditemukan kolam air dengan aliran yang bening dan deras sepanjang waktu. Bahkan di musim kemarau pun debit air sekitar 500 liter per detik tidak berkurang.

Meski begitu, dulunya sumber air yang ada tidak terawat dan sangat kotor. Alhasil, Umbul Ponggok tidak dilirik sama sekali untuk menjadi tujuan wisata warga sekitar. Kemudian, para pengurus BUMDes Tirta Mandiri mulai peduli untuk menjadikan Desa Ponggok sebagai kawasan wisata.

Para pengurus yang terdiri anak muda itu mulai melakukan pembenahan kolam air tersebut. Setelah mendapatkan sedikit ilmu dari kunjungan ke Bali, mereka mulai memberikan sentuhan di Umbul Ponggok agar wisatawan tertarik berkunjung. Selain dibersihkan dan dibangun fasilitas agar pengunjung yang ingin berenang menjadi merasa nyaman, pengelola juga mempercantik beberapa titik agar menarik dijadikan lokasi foto pengunjung.

Transformasi Desa Ponggok

Lambat laun, dari promosi mulut ke mulut membuat pengunjung Umbul Ponggok meningkat drastis. Puncak kenaikan pengunjung terjadi pada 2014, ketika fasilitas //WhatsApp// dan ponsel Android mulai menggeser pamor BlackBerry lewat BlackBerry Massanger (BBM)-nya. Plus ditambah meningkatnya pemakaian aplikasi //Instagram// membuat Umbul Ponggok seolah mendapatkan promosi gratis secara masif.

Mereka yang berkunjung ke lokasi wisata air itu merasa puas dengan fasilitas yang ada, ditambah tiket masuk terjangkau. Kalau dahulu tiket masuk sangat terjangkau, yaitu Rp 3.000 per orang. Kemudian naik Rp 5.000 per orang, naik kembali menjadi Rp 10 ribu, hingga sekarang menjadi Rp 15 ribu per orang.

Kenaikan tiket juga diberangi dengan hasil kreasi pengurus BUMDes Tirta Mandiri, yang kemudian menyediakan fasilitas foto di bawah air (//underwater//). Ternyata, fasilitas yang awalnya ditujukan bagi calon pasangan yang ingin foto //prewedding// itu malah menjadi incaran beberapa pengunjung, meski tarif yang ditetapkan beberapa kali lipat dibandingkan harga tiket masuk. Hanya saja, kalau dibandingkan dengan tarif di tempat wisata lain maka layanan di Umbul Ponggok terbilang murah.

Belum lagi, beberapa titik foto di dalam air yang dipasang sangat kekinian hingga menjadi //Instagramable//. Keunggulan Umbul Ponggok lantaran memiliki ribuan ikan yang bebas berenang tanpa perlu takut kehadiran manusia, yang menghasilkan pemandangan luar biasa untuk dijadikan objek foto. Debit air besar membuat tidak ada rasa amis ketika pengunjung menyelam di kolam tersebut.

Hingga muncul adagium, tidak lengkap ke Umbul Ponggok kalau tidak berfoto di dalam air dengan latar belakang naik sepeda, vespa, duduk di kursi, hingga menonton televisi. Hasil foto pengunjung yang menarik itu membuat mereka secara sadar dan bangga untuk mengunggahnya di akun media sosial (medsos) mereka. Lama-lama semakin banyak yang membagikan fotonya di medsos, khususnya //Instagram// membuat keberadaan Umbul Ponggok menjadi viral.

Lokasi wisata Desa Ponggok ini pun menjadi pembicaraan masyarakat di mana-mana. Umbul Ponggok mendapatkan promosi gratis lantaran fotonya hampir memenuhi berbagai beranda medsos. Hal itu memancing berbagai media massa untuk mengulasnya dan mempublikasikannya. Faktor itu semakin membuat Umbul Ponggok berkibar, lantaran menyita perhatian berbagai kalangan, termasuk para pejabat negara.

Tidak mengherankan, setelahnya ada menteri hingga pejabat daerah yang berkunjung untuk melihat langsung dan sekaligus ingin belajar pengelolaan tempat wisata itu. Kondisi itu dapat dimaklumi lantaran gara-gara viral di medsos dan mendapat liputan bertubi-tubi dari media massa, membuat Umbul Ponggok menahbiskan diri sebagai lokasi wisata unggulan rakyat.

Saat ini, lantaran namanya sudah populer dan adanya tambahan berbagai fasilitas penunjang, setiap pengunjung dikenakan tiket Rp 15 ribu sekali masuk. Uniknya, wisatawan juga mendapatkan semacam souvenir atau produk buatan warga sekitar yang diberikan sebagai hasil harga //bundling// tiket. Konsep menarik pengelola yang ingin memberdayakan warga sekitar agar ikut merasakan perputaran ekonomi membuat tiket yang dibeli pengunjung turut melariskan produk buatan warga sekitar.

Karena pengunjung harian bisa mencapai ratusan, dan pada akhir pekan mencapai ribuan, pendapatan yang dikumpulkan BUMDes Tirta Mandiri pun terus meningkat setiap tahunnya. Dari sekitar Rp Rp 150 juta pada 2012, kemudian mencapai angka Rp 1,1 miliar pada 2014, pendapatan BUMDes Tirta Mandiri pada 2018 menyentuh Rp 14 miliar. Pada 2019, ditargetkan pendapatan melampaui level Rp 18 miliar.

Sebuah nilai fantastis yang dihasilkan dari satu desa, yang hanya menjual potensi wisata alam yang mungkin sangat banyak ditemukan di daerah lain di Indonesia. Alhasil, kini Desa Ponggok bertransformasi menjadi daerah makmur.

Warga yang dahulu banyak merantau ke Jakarta, kini banyak yang balik kampung untuk ikut memajukan desanya dengan melibatkan diri dalam usaha penunjang wisata. Ada yang membuat makanan hasil olahan, sewa penginapan, berjualan souvenir, persewaan alat renang, hingga tetap beternak ikan, namun ekonominya ikut terangkat berkat tingkat kunjungan wisatawan yang membeludak.

Yang lebih hebat lagi, kalau desa lain di Indonesia kebanyakan malah mengharap bantuan pemerintah, Desa Ponggok kini berstatus mandiri dan berkontribusi terhadap pemasukan negara. Pasalnya, dengan pendapatan yang menyentuh belasan miliar maka mereka kini juga dibebankan untuk menyumbang pajak. Kehadiran Desa Ponggok pun akhirnya benar-benar bermanfaat ikut mengangkat perekonomian warganya dan berkontribusi dalam pembangunan nasional, berkat sumbangan pajak setiap tahunnya.

Tidak salah, kalau Desa Ponggok sebaiknya dijadikan //pilot project// oleh pemerintah untuk mengembangkan desa dengan segala potensinya. Karena kalau di sebuah desa tersedia lapangan pekerjaan atau peluang menghasilkan pendapatan layak maka dapat dipastikan tidak ada pemuda yang tertarik untuk mengadu nasib ke kota besar.

Belajar dari situ, pemerintah bisa membuat program untuk mengurangi atau mengendalikan arus urbanisasi dengan mengembangkan potensi desa. Karena kalau desa bisa menghasilkan kesejahteraan bagi warganya maka tidak ada yang tertarik untuk ikut bekerja di kota. Hal itu secara tidak langsung ikut membendung arus urbanisasi.



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved