Artikel
Enny Ratnawati A.
Pembangunan Infrastruktur dan Manfaatnya Bagi Masyarakat

Pembangunan Infrastruktur kelistrikan MENUJU INDONESIA UNGGUL

Awal Agustus lalu, menjadi catatan tersendiri di masyarakat terutama yang berada di Jabodetabek, Jawa barat dan Jawa Tengah. Bagaimana tidak, di hari Minggu yang biasanya mereka nikmati dengan riang, tiba-tiba terjadi pemadaman listrik.

Penyebab pemadaman pada 4 Agustus tersebut dikarenakan gangguan pada SUTET 500 kV Ungaran-Pemalang dan beberapa pembangkit PLN yang lain.

Tentu saja masalah ini tidak sembarangan. Efeknya sangat jelas. Di Jakarta misalnya, efek pemadaman listrik bukan hanya berpengaruh ke rumah-rumah tangga tapi sudah menjalar kepada terhentinya layanan transportasi umum, komunikasi sampai perbankan. Kerugian akibat pemadaman listrik selama dua hari tersebut diperkirakan mencapai 90 miliar belum termasuk kompensasi yang diberikan PLN kepada pelanggan  (okezone.com 05/08/2019). Sementara kalangan industri mengaku rugi triliunan rupiah akibat pemadaman massal ini.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) memang sudah berkali-kali meminta maaf atas kejadian ini. Namun, semua ini memang mengisyaratkan satu hal. Yaitu kelistrikan di Indonesia masih rapuh dan masih ada potensi pemadaman massal di kemudian hari.

Berbicara soal listrik memang tidak semudah membalik telapak tangan. Tanpa kita sadari, listrik ternyata bisa dikatakan salah satu kebutuhan pokok di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Buktinya, dengan pemadaman beberapa saat saja sudah mampu membuat goyah banyak sektor termasuk perekonomian.

Pertumbuhan industri ternyata juga sangat terpengaruh oleh kondisi kelistrikan di Tanah Air. Pertumbuhan industri juga dipengaruhi oleh  infrastruktur kelistrikan ini. Bahkan ternyata salah satu faktor penting yang menjadi bahan pertimbangan para investor dalam memilih sebuah kawasan industri adalah ketersediaan listrik.

Jika tak ada jaminan listrik bahwa tidak akan padam maka proses pembangunan industri bakal terganggu (Bisnis.com,26Juni2019).

Pembangunan Infrastruktur kelistrikan

Lima tahun terakhir, sejak 2014 pembangunan kelistrikan di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Presiden Jokowi mengumumkan dimulainya mega proyek pembangunan pembangkit lisrik 35.000 MW. Saat itu, pemerintah ingin menyediakan listrik sebesar 35.000 MW dalam jangka waktu lima tahun  (2014-2019).

Bersama PLN, pemerintah berencana membangun 109 pembangkit. Masing-masing 35 proyek oleh PLN dengan total kapasitas 10.681 MW dan 74 proyek oleh swasta/Independent Power Producer (IPP) dengan total kapasitas 25.904 MW. Dan pada  2015 PLN  menandatangani kontrak pembangkit sebesar 10 ribu MW sebagai tahap I dari total keseluruhan 35 ribu MW.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 6-7 persen setahun memang diperlukan sedikitnya 7.000 megawatt (MW) per tahun atau 35.000 MW dalam lima tahunKebutuhan sebesar 35 ribu MW tersebut telah dikukuhkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Secara garis besar ada enam langkah yang telah dilakukan pemerintah untuk kesuksesan proyek 35.000 MW ini. Pertama, mempercepat ketersediaan lahan dengan menerapkan Undang-undang 2/2012 tentang pembebasan lahan.

Kedua, menyediakan proses negosiasi harga dengan menetapkan harga patokan tertinggi untuk swasta dan excess power.

Ketiga, mempercepat proses pengadaan dengan mengacu pada Permen ESDM 3/2012 dengan alternatif penunjukan langsung atau pemilihan langsung untuk energi baru terbarukan (EBT), mulut tambang, gas marjinal, ekspansi, dan excess power. Keempat, memastikan kinerja pengembang dan kontraktor andal dan terpercaya melalui penerpan uji tuntas (due diligence).

Kelima, mengendalikan proyek melalui project management office (PMO) dan keenam memperkuat koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait. (www. bumn.go.id).

Masyarakat Sejahtera

Tingkat elektrifikasi hingga 2018 mencapai 98,3%. Sedangkan sampai akhir 2019 ditargetkan sudah bisa mencapai 99%. Pemerataan kelistrikan memang sudah hampir dirasakan seluruh rakyat ndonesia. Namun sayangnya, listrik memang masih susah menjangkau beberapa daerah di Indonesia.

Daerah dengan tingkat elektrifikasi terendah di Indonesia masuk dimiliki oleh Nusa Tenggara Timur dengan dengan tingkat elektrifikasi 61,90persen. Artinya di wilayah ini masih banyak yang belum terlistriki oleh PLN.

Namun demikian daerah lain sudah 90persen keatas tingkat elektrifikasinya walaupun di beberapa daerah di Indonesia pemadaman masih menjadi momok yang sangat sulit dihilangkan oleh PLN.

Pemerataan dan peningkatan kapasitas listrik tentu saja mempunyai efek yang luar bisa dalam kehidupan sehari-hari masyakat. Dalam lingkup yang sederhana, masyarakat yang terlistriki tentu saja akan mampu meningkatkan perekonomiannya.

Kemudian akses informasi akan menjadi lebih baik, sehingga mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat. Dalam lingkup yang lebih luas juga akan mensejahterakan masyarakat melalui berbagai industri yang terus berjalan dan memberi pengaruh pada peningkatan tenaga kerja di suatu wilayah.

Indonesia yang terlistriki memang akan menjadi gerbang kemajuan SDM Indonesia di masa depan. Sampai dimanakah kesiapan kita?



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved