Artikel
Mohmmad Oki Sandrino
Destinasi Pariwisata Indonesia

Indonesia Membumbui Dunia Lewat UKM

Saya kenal sosok pria ini setahun yang lalu. Pria berkuncir, yang sudah tidak muda lagi. Usianya 70 tahun, namun semangatnya masih berani diadu para milenial. Ia adalah seorang praktisi Brand, dengan pengalaman 50 tahun di dunia tersebut.

Subiakto Priosoedarsono. Ia ajukan ide untuk Rebranding Indonesia sejak 2004. Langsung kepada Presiden RI saat itu: Susilo Bambang Yudhoyono. Namun tidak ada tindak lanjutnya.

Tidak patah semangat, akhirnya ide itu ia garap sendiri. Melalui tangan-tangan UKM. Ia putuskan untuk bergerak dari bawah.

Sejak 2016 ia tularkan ilmu Branding yang dimilikinya selama puluhan tahun kepada para UKM. Saya berkesempatan ikut workshop tersebut dan berdiskusi dengannya langsung. Melalui workshop tersebut, saya terhubung dengan 1500 pegiat UKM yang sudah tercerahkan tentang Brand. Karena UKM biasanya hanya punya mindset omset, dagangan laris. Tapi Brand, value, rata-rata masih belum melek.

Dari berbincang dengan para pegiat UKM ini, ternyata kemampuan wirausahawan lokal kita cukup mumpuni.

Bicara garam, ada produsen dengan merek Javara. Produknya organik. Melalui tangan para petani garam langsung, diolah dan dikemas secara kekinian. Garam Javara malah tembus ekspor. Dan tidak hanya garam, Javara pun mengeluarkan produk herbal yang juga diekspor.

Bicara pupuk, ada produsen dengan Brand NASA (Natural Nusantara). Bukan sekadar pupuk, tapi NASA juga menggunakan teknologi nano. Ada bahan yang dibuat menjadi ukuran partikel nano, sehingga pupuknya menjadi lebih optimal daya kerjanya.

Atau bicara herbal, ada produk UKM dengan Brand Javabet. Sejatinya ini adalah jamu untuk penderita diabetes. Menggunakan bahan alam, asal Jawa, untuk yang terkena diabet. Dan ada bahan alam yang dibuat nano juga dalam Javabet, sehingga bahan aktif tersebut bereaksi lebih efektif terhadap tubuh pasien diabetes.

Di dunia kuliner, semakin banyak lagi UKM bertebaran. Saya kenal dengan pemilik Brand Jukajo. Jus Kacang Ijo. Minuman ini wajib ada di pesawat kepresidenan, pada masa SBY. Melalui tangan para bidan sebagai reseller, penjualan Jukajo ini efektif. Akhirnya produk-produk turunannya pun lahir. Seperti Jukajo Mom untuk ibu menyusui. Ramuannya dibuat agar produksi ASI bisa lebih banyak.

Belum lagi produk makanan olahan, kopi, bakso, cemilan. Juga pakaian. Mulai hijab, gamis, sepatu, sampai kaos khusus untuk pemilik badan besar.

Produk-produk UKM ini unik. Dan memiliki value tersendiri. Sehingga begitu datang perang harga yang berdarah-darah, produk teman-teman UKM ini tidak terkena imbas. Karena mereka sudah bermain di Blue Ocean. Arena yang memiliki pasarnya tersendiri. Market yang sudah paham Value. Nilai tambah. Perang harga berdarah-harga (red ocean)hanya berlaku untuk produk yang value-nya tidak kentara. Sehingga konsumen pun kerap bandingkan dengan produk sejenis. Tinggal cari mana yang memiliki harga termurah.

Namun begitu, UKM juga bakal tenggelam, jika tidak didukung kebijakan pemerintah. Aliran produk impor, yang mana ketersediaannya di negeri ini cukup banyak, akan “mengganggu” UKM.

Seperti garam. Jika produk garam dalam negeri sudah habis terserap masyarakat, maka kebijakan impor dipandang perlu. Karena kebutuhan tetap harus terpenuhi. Namun impor garam di kala garam lokal masih banyak yang belum terserap pasar, kebijakan itu tidak memihak pengusaha lokal kita.

UKM juga perlu didukung dalam hal kemudahan pembuatan perizinan. Misal BPOM, atau halal. Jika ada kemudahan, tentu teman-teman UKM lebih bersemangat lagi mengembangkan produknya. Namun tetap perlu dicatat, adanya kemudahan tidak berarti membuat produknya jadi gampangan, alias tidak berkualitas.

Kembali kepada Rebranding Indonesia. Mengapa dipandang perlu? Karena Indonesia sudah kehilangan identitasnya. Dulu, zaman VOC, negara kita dikenal dengan rempahnya. Sampai pada waktu itu, harga segenggam pala setara dengan harga segenggam emas. Indonesia kala itu berhasil membumbui dunia. Melalui rempah. Produk yang sangat lokal. Ingat Indonesia, ingat rempah. Waktu itu.

Sekarang jika ingat Indonesia, ingat apa? Akan acak sekali jawabannya. Mungkin ada yang bilang ramah, atau rendang, atau korupsi, atau malah Bali.

Sedangkan jika kita sebut Brazil, kopi dan sepakbola akan mewakili negara tersebut.

Italia identik dengan pizza, atau kejuaraan granprix motor dunia.

Malaysia cukup berhasil dengan slogan Truly Asia. Karena ada tiga kultur di negaranya yang mewakili ras di Asia. Yaitu Malay, Chinese, dan India. Keberadaan tiga kultur dalam satu negara membuat Malaysia klaim bahwa merekalah sebenar-benarnya Asia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Melalui UKM, semangat membumbui dunia ingin dihidupkan lagi. Indonesia Spicing the World. Kenapa UKM?

Karena UKM ini kecil. Ia bisa bergerak lincah dan cepat. Gesit. Berbeda dengan perusahaan besar, yang jika akan mengubah sesuatu ada birokrasi yang harus dilewati. Mengubah haluan kapal besar tentu tidak secepat perahu layar mengubah arah.

Melalui UKM pula, produk yang dihasilkan harus unik dan mempunyai value. Produk-produk yang disebut di atas, seperti Javara, Jukajo, Javabet, atau NASA, adalah produk UKM dengan value yang unik. Selanjutnya adalah scale up sehingga produk tersebut bisa tersebar lebih luas ke seluruh pelosok nusantara.

Karena saat ini… adalah saatnya produk lokal yang berjaya.

Produk lokal bisa.

UKM bisa.

Hingga akhirnya, Indonesia bisa kembali membumbui dunia.



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved