Artikel
Rahmat Galih Rudyto
Destinasi Pariwisata Indonesia

Menatap Masa Depan Pariwisata Nasional

Pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan tercepat dan menunjukkan pertumbuhan positif baik PDB, ekspor, maupun jumlah wisman.

Indonesia yang memiliki 17.504 pulau yang tersebar di 34 provinsi, dianugrahi keindahan alam, keanekaragaman budaya dan hayati yang tinggi, sehingga mampu menjadi magnet kehadiran jutaan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Dampak postif lainnya adalah sektor pariwisata telah terbukti mampu meningkatkan kesempatan kerja masyarakat. Fakta menunjukkan adanya hubungan keterkaitan antara jumlah wisman dengan lapangan kerja.

Berdasarkan data hitoris 2007-2018, rata-rata pertumbuhan wisman sebesar 10 % dan lapangan kerja pariwisata tumbuh sebesar 6 %/tahun. Artinya, peningkatan jumlah kedatangan wisman searah dengan peningkatan lapangan kerja.

Belajar dari Maladewa

Indonesia memiliki potensi wisata untuk dikembangkan menjadi destinasi pariwisata tingkat dunia. Sektor pariwisata jika digarap serius akan memberikan manfaat besar bagi Indonesia.

Bangsa kita memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya yang beragam. Indonesia memiliki keindahan pantai dan laut yang bisa ditawarkan sebagai destinasi wisata menarik bagi para wisatawan mancanegara.

Seperti diketahui, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2018 mencapai sebesar 15,8 juta orang atau meningkat sebesar 13 persen dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 14 juta orang. Jika mengacu pada target wisman 2019 yang sebanyak 17-20 juta orang, maka devisa yang bisa diraih sekitar 16-18 juta US Dollar.

Nampaknya Kita perlu belajar dari Maladewa (Maldive) yang sumber penghasilan utamanya dari pariwisata. Maladewa merupakan negara kepulauan sama seperti Indonesia, yang memiliki sekitar 1.190 pulau(hanya 7 persen dari jumlah pulau di Indonesia). Di antara ribuan pulau tersebut, 80 pulau merupakan resort yang dihuni oleh para wisatawan.

Jika dibandingkan, jelas Indonesia memiliki potensi yang lebih besar dari Maladewa. Lalu apa yang harus Kita lakukan? Langkah pertama adalah…BELAJAR DARI MALADEWA!!

Disparitas dan Konektivitas Indonesia

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, merentang sepanjang 5,106 km dari timur ke barat, seakan menjadi tantangan tersendiri. Beberapa program pemerintah yang ditujukan untuk mengurangi disparitas regional dan meningkatkan konektivitas, wajib diapresiasi seperti, pembangunan infrastruktur dan Program Tol Laut, serta Program 10 Bali Baru yaitu pengembangan 10 destinasi pariwisata prioritas.

Agar tujuan pembangunan pariwisata lebih dapat terwujud, berikut masukan yang perlu dikembangkan:

1. Benahi seluruh potensi Daerah Tujuan Wisata (DTW) agar mampu menarik wisman. Kondisinya harus tertata dengan baik, aman dan nyaman.

2. Implementasi Program 30 BEYOND BALI dalam rangka mendongkrak perekonomian daerah dan menumbuhkembangkan bisnis penerbangan nasional. 30 destinasi tersebut yakni, 10 Bali Baru: Danau Toba, Belitung, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Candi Borobudur, Gunung Bromo, Mandalika Lombok, Pulau Komodo, TN Wakatobi dan Morotai (+) 20 destinasi tambahan: Pulau Weh, Simeuleu, Nias, TN Siberut, Mandeh, Batam, Natuna, Enggano, Karimunjawa, Gili Trawangan, Balikpapan, Derawan, Danau Poso, Bunaken, Nihiwatu, Teluk Jailolo, Banda Neira, Pasir Panjang Kei, Raja Ampat dan Danau Sentani.

3. Kembangkan sektor penerbangan nasional sebagi pendukung utama pariwisata, karena hamper 70 persen wisman internasional menggunakan moda angkutan udara dalam melakukan perjalanan dari/ke Indonesia. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2018, wisman yang datang ke Indonesia melalui jalur udara sebanyak 10,08 juta orang (64%), Laut 3,21 juta orang (20%) dan darat 2,51 juta orang (16%).

4. Kembangkan penerbangan sea plane. Kondisi geografis Indonesia terdiri atas ribuan pulau, namun potensi penerbangan menggunakan “Amphibian/Sea Plane” saat ini belum dikembangkan secara serius, padahal sektor ini cukup menjanjikan. Kemampuan pesawat amphibian yang fleksibel bisa mendarat di darat maupun di laut, merupakan keunikan tersendiri yang dapat digunakan untuk meng-eksplore potensi keindahan alam dan bahari Indonesia.

5. Pengembangan industri dirgantara nasional. Keberadaan PTDI sebagai produsen pesawat nasional harus didukung, karena mampu menghemat devisa. Di sisi lain jika produksi sukses, Indonesia bisa mendulang US Dollar dari hasil penjualan pesawat. Hanya saja PTDI idealnya dibatasi hanya memproduksi pesawat propeller saja dan fokus menyesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri. Sedangkan untuk kebutuhan pesawat jet merupakan bagian dari hubungan dan kerjasama internasional antara Indonesia dengan negara lain.

6. Peningkatan Kualitas SDM Pariwisata. Pemerintah menitikberatkan SDM sebagai prioritas pembangunan. Dalam rangka mengembangkan sektor pariwisata, kuantitas dan kualitas SDM pariwisata juga menjadi hal yang krusial. Mengacu pada laporan World Economic Forum (WEF) 2017, dari indeks Global Human Capital, Indonesia berada di posisi 65 dari 130 negara.

Sedangkan UNDP mencatat, Human Development Index Indonesia berada di level medium di posisi 116 dari 189 negara. Artinya, meski Indonesia memiliki jumlah penduduk terbanyak ke-4 dunia, namun dari aspek kesiapan dan kualitas SDM masih memerlukan pembenahan lebih lanjut.

Sejalan dengan Visi ke-5 untuk Indonesia Maju, yakni investasi untuk lapangan kerja, maka investasi di sektor pariwisata sangatlah tepat. Alasannya, Pertama, industri pariwisata mencakup klasifikasi bisnis yang beragam, mulai dari transportasi, hotel, resort, restoran dan UMKM.

Kedua, UMKM mampu memberikan kontribusi yang besar pada penciptaan lapangan kerja dan pada saat krisis ekonomi mampu bertahan dan bahkan menjadi penyelamat dari badai ekonomi.
Jika Indonesia fokus pada pengembangan sektor pariwisata sebagai salah satu strategi dalam pembangunan, maka bisa mendongkrak perekonomian nasional, meningkatkan pendapatan pemerintah, serta bisa menjaga kelestarian seni dan budaya.

Sedangkan bagi masyarakat, kesempatan kerja semakin terbuka lebar. Dengan tersedianya lapangan kerja otomatis akan membantu program pengentasan kemiskinan dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Namun agar Visi Indonesia Maju tercapai, tentunya bukan hanya diam dan berpangkutangan. Hadapi dan singkirkan kabut yang menghadang di depan, sehingga Kita bisa MENATAP MASA DEPAN PARIWISATA NASIONAL YANG LEBIH CERAH.



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved