Artikel
I Nengah Muliarta
Inovasi Produksi Pertanian dan Pangan

Berkah Limbah Jerami Padi Untuk Meningkatkan Produksi Pertanian dan Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan

Jerami padi selama ini masih dipandang sebagai limbah dari proses kegiatan pertanian yang jika tidak ditangani dengan baik akan menjadi hambatan dalam kegiatan pertanian dan bahkan akan mendatangkan musibah.

Jerami padi merupakan salah satu limbah kegiatan pertanian yang tersedia cukup melimpah saat musim panen. Jerami padi merupakan bagian dari tanaman padi yang meliputi batang, daun, dan tangkai malai.

Sayangnya hingga saat ini jerami padi belum dipandang sebagai sebuah berkah yang melimpah dan menjadi bagian dari berkah akan hadirnya gabah yang kemudian diolah menjadi beras.

Apabila dipandang dari sisi sisa kegiatan pertanian memang jerami padi adalah limbah pertanian, tetapi jika dipandang dari sisi bahan baku maka jerami padi merupakan berkah yang belum disyukuri.

Menurut Sirajuddin dan kawan-kawan dalam sebuah artikel ilmiah berjudul Response of Cattle Breeders Silage in Soppeng Regency, South Sulawesi Province yang dipublikasikan di American-Eurasian Journal of Sustainable Agriculture, volume 10, nomor 3 tahun 2016, secara rata-rata produksi jerami padi bisa mencapai 12-15 ton/hektar untuk sekali panen.

Produksi jerami padi secara umum sangat dipengaruhi oleh lokasi tanam dan jenis varietas yang ditanam. Sedangkan Binod dan kawan-kawan dalam artikel berjudul Bioethanol production from rice straw: An Overview yang dipublikasikan di jurnal Bioresource Technology, volume 101 tahun 2010 menyebutkan bahwa setiap 1 kg gabah dihasilkan 1-1,5 kg jerami padi.

Artinya makin tinggi produksi gabah yang dihasilkan maka makin meningkat juga berkah limbah jerami padi yang didapatkan.
Pengolahan jerami padi dapat menjadi solusi dalam menghadapi permasalahan pembuangan limbah jerami padi dan mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembakaran di lahan terbuka.

Pemanfaatan jerami padi dapat memberi nilai ekonomi bagi petani dan masyarakat lokal, serta dapat merangsang pertumbuhan ekonomi pedesaan yang lebih luas dengan memberi nilai tambah melalui pengembangan industri dan nilai tambah bagi lingkungan pertanian.

Secara sederhana petani pada zaman dahulu memanfaatkan jerami padi sebagai atau rumah, alas kandang dan sebagai bahan bakar secara langsung. Jerami padi juga umum digunakan sebagai pakan ternak, tetapi dalam perkembanganya kini cukup jarang petani yang memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak.

Hal ini terjadi karena jumlah pakan hijauan selalu tersedia dan penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak juga cenderung dihindari karena rendahnya kandungan gizi yang ditandai dengan rendahnya kandungan protein dan tingginya kandungan silika dan lignin, sehingga mengakibatkan rendahnya kecernaan jerami padi.

Kendati ada ada petani yang memanfaatkan jerami padi sebagai pakan cenderung memanfaatkan saat panen dilakukan pada umur tanaman tidak terlalu tua.

Jerami padi umum digunakan oleh petani sebagai mulsa. Pemanfaatan mulsa jerami padi dilakukan petani dengan beberapa alasan seperti untuk menekan pertumbuhan tanaman pengganggu, mengurangi penguapan dan mengurangi biaya pembelian mulsa plastik.

Jerami padi sebagai produk samping pertanian dapat dimanfaatkan sebagai media tanam dalam budidaya jamur, salah satunya Jamur tiram (Pleurotus ostreatus). Jerami padi sebagai limbah pertanian bisa dijadikan media tanam jamur tiram karena mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh jamur untuk pertumbuhan.

Seiring perkembangan teknologi, jerami padi dapat digunakan untuk produksi bioenergi dan biofuel berkelanjutan seperti biogas. Teknologi biokonversi produksi biogas secara anaerobik adalah teknologi biokonversi paling efektif dari segi biaya yang telah diterapkan di seluruh dunia untuk produksi komersial listrik, panas, dan gas alam terkompresi dari bahan organik.

Namun, pemanfaatan jerami padi untuk produksi biogas melalui proses anaerobik belum banyak dilakukan karena struktur rumit dinding sel tanaman membuatnya tahan terhadap serangan mikroba. Dalam beberapa penelitian juga terdapat usaha untuk memanfaatkan jerami padi untuk menghasilkan bioetanol.

Pemanfaatan jerami padi sebagai bioethanol merupakan sebuah upaya dalam mengelola limbah pertanian dan untuk menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan.

Kenyataanya dilapangan selama ini cukup mudah kita dapat menemui adanya pembakaran jerami padi. Pembakaran jerami padi oleh petani secara umum bertujuan untuk mempercepat pengolahan tanah untuk mengejar masa tanam berikutnya, termasuk menghindari terjadinya penyebaran hama dan penyakit agar tidak meluas.

Memang harus diakui juga pembakaran jerami padi oleh petani merupakan salah satu pengetahuan pengembalian jerami padi ke tanah yang diterima petani secara turun-temurun.
Praktek pembakaran jerami secara terbuka telah terbukti menjadi sumber emisi karbon yang signifikan selama musim panen dan berdampak pada penurunan kualitas udara.

Pembakaran jerami padi tidak saja menyebabkan polusi udara yang menyebabkan penurunan kualitas udara, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan iklim. Dampak pembakaran jerami mengakibatkan sebagian unsur hara hilang, karena beberapa unsur-unsur hara mudah menguap.

Dobermann dan Fairhurst dalam sebuah artikel berjudul Rice Straw Management yang dipublikasikan dalam Better Crops International, volume 16 tahun 2002 menyebutkan bahwa jerami padi mengandung unsur hara N mencapai 0,5-0,8%, unsur P sekitar 0.16-0,27% dan unsur K sekitar 1,4-2%. Hal ini menjadi bukti bahwa jerami padi merupakan bahan baku pupuk melalui proses pengomposan.

Apabila mengamati di lapangan sangat jarang dapat menjumpai pemanfaatan jerami padi sebagai kompos. Beberapa penelitian menyebutkan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan petani tidak melakukan pengomposan jerami padi, diantaranya proses pengomposan yang rumit, untuk melakukan pengomposan petani memerlukan tenaga kerja tambahan dan biaya tambahan, serta keterbatasan waktu.

Pada kondisi seperti ini peran petugas penyuluh lapangan menjadi sangat dalam upaya melakukan sosialisasi pemanfaatan jerami padi sebagai kompos dan mensosialisasikan metode pengomposan jerami padi yang cepat serta menghasilkan kompos berkualitas. Selain itu, pelatihan metode pengomposan juga harus lebih sering dilakukan agar petani benar-benar mampu memahami dan melakukan pengomposan dengan baik.

Upaya untuk mendapatkan produksi padi yang tinggi menyebabkan petani sangat doyan menggunakan pupuk anorganik yang residunya berdampak pada pencemaran tanah dan air, serta berdampak negative terhadap kesehatan manusia. Target pemerintah untuk mengejar produksi beras dan dengan alasan membantu petani sebagai masyarakat lemah menyebabkan subsidi pupuk anorganik terus meningkat tiap tahun.

Disisi lain sosialisasi pemanfaatan jerami padi sebagai kompos terabaikan dan jerami padi sebagai bahan baku menjadi terbuang percuma. Berbagai penelitian telah memberikan rekomendasi bahwa jerami padi yang dikomposkan mampu menjadi pengganti pupuk anorganik. Man, H.L dan kawan-kawan dalam sebuah penelitian yang kemudian dituangkan dalam artikel berjudul Improvement of Soil Fertility by Rice Straw Manure di Jurnal Omonrice, volume 17 tahun 2010 mendapatkan penggunaan kompos jerami padi (6 ton/ha) dapat menurunkan penggunaan pupuk anorganik 20-80% dari tingkat aplikasi yang disarankan tanpa mengurangi hasil panen.

Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan kompos jerami padi dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan berpotensi memberikan hasil padi yang tinggi. Begitu juga dengan Sitepu dan kawan-kawan dalam sebuah penelitian yang kemudian ditulis dalam artikel berjudul Pemanfaatan Jerami Sebagai Pupuk Organik Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza Sativa) yang dipublikasikan di Buletin Tanah dan Lahan, volume 1, nomor 1 tahun 2012 mendapatkan hasil bobot gabah kering giling pada perlakuan NPK 100% (250 kg/ha urea, 150 kg/ha SP36 dan 100 kg/ha KCl) sama dengan perlakuan kombinasi penggunaan NPK 50% dengan pupuk organik (4 ton ha-1) untuk varietas padi Ciherang.

Kedua hasil penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa penggunaan pupuk organik dari limbah jerami padi dapat mengurangi pencemaran tanah dan mengurangi biaya pembelian pupuk anorganik.
Penggunaan pupuk anorganik secara maksimal memang memberikan hasil yang tinggi karena pupuk anorganik akan diserap langsung oleh tanaman.

Pemanfaatan pupuk anorganik dalam jangka panjang pada titik tertentu akan menyebabkan penurunan produksi karena kesehatan tanah terganggu akibat rendahnya kandungan bahan organik dalam tanah. Dalam pertanian berkelanjutan yang menjadi target bukan hanya peningkatan produksi tetapi juga yang lebih penting adalah kesehatan dan kesuburan tanah.

Jika kesuburan tanah rendah mustahil untuk mendapatkan produksi yang tinggi. Guna mempertahankan kesehatan dan kesuburan tanah ini maka dibutuhkan tambahan bahan organik dalam bentuk kompos, salah satunya kompos jerami padi. Pada akhirnya kombinasi pupuk organik dan anorganik menjadi solusi untuk tetap menjaga produksi padi tinggi.

Langkah sederhana yang dapat mulai dilakukan adalah mengembalikan jerami padi dari setiap petak lahan ke tanah dalam bentuk kompos, sambil mengurangi penggunaan pupuk anorganik secara bertahap. Langkah ini menjadi penting karena unsur hara dalam kompos jerami padi harus mengalami mineralisasi terlebih dahulu sebelum dapat diserap oleh tanaman.

Pengomposan jerami padi memang memerlukan waktu dan tenaga, tetapi tentu juga memberikan manfaat berupa pengurangan biaya pembelian pupuk, menjaga kesehatan dan kesuburan tanah, mengurangi pencemaran tanah, serta mengurangi pencemaran udara akibat pembakaran jerami padi.

Apalagi jika kedepan dengan pemanfaatan limbah jerami padi dapat mewujudkan pertanian organik, maka harga produksi pertanian juga meningkat dan terwujud pertanian yang berkelanjutan di Indonesia. Pada akhirnya dengan terwujudnya pertanian organik selain produksi pertanian yang tinggi, harga produk-produk pertanian juga tinggi.

Maka sudah waktunya memandang jerami padi sebagai berkah dalam upaya mewujudkan pertanian organik dan menghasilkan produk-produk pertanian yang menyehatkan bagi manusia.



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved