Artikel
Mugniar Marakarma
Sumber Daya Manusia untuk Indonesia Maju

Wujudkan Pemerataan Sistem Pendidikan Inklusif untuk Capai Tujuan Pendidikan Nasional

Bisnis.com, JAKARTA -- “Bagus sekolahnya. Banyak anak bodo’-bodo’ jadi pintar keluar dari sini,” kata seseorang kepada suami saya ketika mengunjungi sekolah dasar itu. Tak enak didengar tapi apa hendak dikata. Begitulah pandangan umum orang di Makassar terhadap anak yang perkembangannya tak seperti anak seusianya.

Bungsu kami kini sudah kelas 3 di sekolah tersebut. Dia masuk melalui jalur inklusi. Keadaannya yang speech delay dan terlambat dalam beberapa hal dibandingkan anak seusianya membuat kami memutuskan memasukkannya di sekolah ini.

Di sekolahnya, belasan anak berkebutuhan khusus diakomodasi belajar bersama anak-anak reguler. Sistem inklusi yang dirintis sejak tahun 2002 membuat semua guru, siswa, hingga penjaga kantin paham bagaimana bersikap terhadap ABK.

Di tengah keterbatasan kurangnya tenaga pendidik kategori Aparatur Sipil Negara, saya menyaksikan berjalannya sistem inklusif di sekolah ini. Tak harus mahal ternyata untuk menjadi sekolah inklusi. Jalan terbuka bermodalkan itikad baik dan tekad kuat dalam mengikuti peraturan pemerintah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan & Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa telah mengatur caranya.

Pasal 1 Permen tersebut menyatakan bahwa yang dimaksud pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan berpotensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Tujuan pendidikan inklusif (Depdiknas: 2009, 10-11) di antaranya adalah: memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua anak mendapatkan pendidikan layak sesuai kebutuhannya, membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar; membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah, dan menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta ramah terhadap pembelajaran.

Adapun manfaat pendidikan inklusif untuk ABK/disabilitas adalah meningkatkan kepercayaan diri, berkesempatan menyesuaikan diri, dan memiliki kesiapan menghadapi kehidupan di masyarakat. Sedangkan peserta didik pada umumnya dapat belajar mengenai keterbatasan, kelebihan, dan keunikan tertentu pada temannya sehingga dapat mengembangkan keterampilan sosial, menumbuhkan rasa empati dan simpati terhadap orang lain (Kustawan, 2013: 18).

Setelah 10 tahun ditetapkan, seharusnya pendidikan inklusif menjadi pola yang wajar dan mendewasa. Kenyataannya tak demikian sebab banyak sekolah tak menerapkannya. Belum lama ini di Makassar, seorang difabel daksa ditolak masuk sebuah SMP negeri yang menyatakan dirinya sekolah inklusi.

Beberapa bulan lalu, lini masa Facebook saya ramai dengan kasus seorang siswi SMA difabel netra yang menuntut persamaan hak belajar di sekolahnya. Permasalahan itu mencuat ketika permintaan menggunakan laptop dan menggunakan GPK ditolak. Keinginannya untuk bersekolah tidak diamodasi dengan baik oleh pihak sekolah.

Lagu lama, sekolah inklusi menolak difabel. Padahal kisah difabel yang menginspirasi sudah banyak beredar. Helen Keller (penulis Amerika, 1880 – 1968), salah satu contohnya. Helen adalah orang buta-tuli pertama yang lulus perguruan tinggi. Dia dosen dan penasihat senior bagi difabel. The Story of My Life adalah salah satu buku karyanya yang berisi kisah hidupnya.

Dr. Handry Satriago,  profesional berkursi roda merupakan CEO dari perusahaan besar. Sebelumnya dia bekerja di beberapa perusahaan lokal sebagai Direktur Business Development. Nur Sahadati Amir (Nunu), kawan blogger saya, memiliki beberapa keterbatasan fisik. Walau sering mengalami diskriminasi, Nunu berhasil menyelesaikan S1-nya. Kini dia bekerja sebagai ASN pada sebuah instansi di Jakarta dan tengah menyelesaikan studi S2-nya.

Pada tahun 2015, Anis Rahmatillah – pengguna laptop dengan kaki karena lengannya tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, meraih juara 1 pada Olimpiade Sains Nasional. Nick Vujicic – motivator kelas dunia telah mengunjungi lebih dari 25 negara meskipun dia terlahir tanpa kedua kaki dan lengan.

Mereka bukti bahwa keterbatasan bukan berarti sama sekali tidak mampu. Alih-alih dikasihani, difabel hanya butuh dimengerti dan dimaklumi bahwa mereka berdaya dengan cara berbeda. Fasilitasi mereka dengan metode yang tepat, misalnya dengan dengan menjalankan sistem pendidikan inklusif.

Albert Einstein yang pernah disangka bodoh dan bermasalah pada masa sekolahnya pernah menulis,

Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”

Semua orang jenius. Tetapi jika Anda menilai seekor ikan dengan kemampuannya memanjat pohon, ia akan hidup selamanya dengan percaya bahwa dirinya bodoh. Seorang difabel netra memiliki kecerdasan yang sama dengan yang mampu melihat. Biarkan dia belajar menggunakan laptop, jangan minta dia untuk melihat ke papan tulis lalu menulis!

Berdayakan semaksimal mungkin lulusan Pendidikan Luar Biasa untuk menjadi GPK, tingkatkan kapasitas mereka dengan pelatihan yang sesuai, dorong penerapan pendidikan inklusif baik di sekolah swasta maupun negeri, penuhi kebutuhan guru ASN di sekolah negeri termasuk tenaga GPK-nya, berikan dana operasional pendidikan inklusif, dan edukasi para kepala sekolah serta orang tua perihal pendidikan inklusif.

Sekali lagi, dengan itikad baik dan tekad kuat segala keterbatasan bisa di atasi. Bukti terselenggaranya pendidikan inklusif dengan biaya minim sudah ada, yaitu sekolah anak bungsu saya. Maka janganlah mengatakan tidak bisa atau tak mampu jika belum berusaha.

Bukankah menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia adalah tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang termaktub dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional harus kita dorong terlaksananya?

Bukankah warga negara yang baik bersedia mendukung program yang baik? Bersediakah Anda share tulisan ini agar makin banyak orang yang aware dengan pendidikan inklusif?



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved