Artikel
Andre Mistoh Fauzi
Sumber Daya Manusia untuk Indonesia Maju

Bangunkan Macan Asia yang Tertidur dengan Peningkatan SDM

Saya kembali duduk di bale-bale sambil menggenggam unit ponsel yang terhubung ke jaringan. Beberapa berita sempat menggelitik pikiran, terutama yang mengekspos tentang daya saing Indonesia.

Tidak perlu jauh-jauh membahas seantero negeri, lingkunganku saja seperti tidak berkembang selama ini. Sembilan belas tahun tinggal di sini (Lampung), belum ada perubahan berarti yang membuat sayakaget.

Saya belum menemui tetangga yang kaya raya karena bisnisnya. Belum juga ada tanda-tanda kesiapan masyarakat menghadapi era digital. Pertanyaannya, bagaimana kondisi kita beberapa tahun mendatang jika SDM di daerah tidak dibangun seperti halnya di ibukota?

Bagaimana Cara Membangunkannya

Di masa Presiden Soeharto, Indonesia sempat punya gelar Macan Asia yang Tertidur, kontra dengan berita beberapa hari belakangan soal turunnya daya saing Indonesia. Jika tahun lalu Indonesia berada di posisi 45 dengan nilai 64,9, kini, dalam rilis resmi World Economic Forum (WEF),RI harus berpuas diri duduk posisi 50 dengan nilai 64,6. Tentu hal ini amat disayangkan di tengah letupan usia produktif.

Dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pemerintah punya beberapa PR yang jauh dari kata rampung. Saya punya beberapa ide untuk mewujudkan kemajuan Indonesia dari sisi pengembangan SDM.

#1 Menanamkan Nilai Luhur dengan Kearifan Lokal

“Hai, Pak!”

“Ya ampun. Tante gendutan, deh.”

Ungkapan semacam itu seperti lumrah dikatakan. Terkesan akrab memang, tapi sejatinya masih banyak bentuk kalimat lain yang lebih sopan dikatakan.

Tak bisa dipungkiri, generasiku—milenial dan Z—adalah kelompok yang paling banyak terpapar perubahan. Saya sadar betul jikakelompok kami mengalami pergeseran moral. Berbekal taglineenjoy your life, sepertinya tiap anak muda belum merasa hidup kalau tak ikutan tren salah kaprah itu.

Dampaknya sungguh luar biasa. Contoh paling kentara adalah fenomena anak yang gugat orang tuanya ke pengadilan. Kita tak bisa menyalahkan siapapun. Sebab, masalahnya sangat kompleks.

Jalan keluarnya, perlu ada kelas khusus di sekolah dasar yang mengajarkan tentang moral, misalnya dua tahun pertama (kelas 1 dan 2). Tahap pengembangan diri ini murni diisi dengan pengetahuan dan praktik berperilaku baik tanpa ditambahi mata pelajaran lain.

Problem SDM di Indonesia memang harus diperbaiki dari kecambahnya. Sebab, rasanya kurang tepat jika instansi terkait menggencarkan perbaikan SDM hanya untuk orang dewasa, sementara bibit-bibit baru tetap dididik dengan cara lama.

#2 Perbaikan Sistem Pendidikan dan Tenaga Pendidik

Ketika dulu masuk SD, tahun 2005, saya masih menggunakan kurikulum 1996. Saat itu, sistem pembelajaran praktis seperti kelas dongeng. Bu guru berbicara panjang lebar sepanjang mata pelajaran berlangsung. Sisanya, kami mengangguk, menjawab kami sudah paham, dan mengerjakan latihan yang didiktenya.

Rilis terkini Kurikulum 2013 adalah harapan baru, karena mengedepankan peran siswa di kelas. Di atas kertas, guru adalah fasilitator yang memberi pengantar pelajaran. Selebihnya, murid lah yang bertugas menghidupkan kelas. Tapi, lagi-lagi sekolah sukar menerapkannya. Sebab, tenaga pengajar didominasi mereka yang mendekati enam puluh tahun.

Pemerintah dalam hal ini Kemdikbud sebaiknya membuat branding baru untuk sistem dan tenaga pendidik di Indonesia agar lahir banyak guru muda yang berdedikasi dan mumpuni di bidangnya. Rasanya sudah jadi rahasia umum jika seringkali guru—terlebih di daerah—asal ditempatkan untuk mengisi kekosongan.

Misalnya, guru olahraga harus mengajar Bahasa Indonesia karena kurangnya SDM di bidang tersebut. Saya berbicara begini karena sempat mengalaminya. Ada juga tenaga pendidik yang memang berada di bidang tersebut, tetapi tidak upgrade dengan sistem pendidikan terkini. Pada akhirnya, murid menjadi korban.

Seringkali juga dijumpai guru underrated atau yang makan gaji buta. Di sekolah non-unggulan, tenaga pendidik tersebut sangat mudah dijumpai. Tentu sangat menggangu dan merugikan.

 

#3 Pelatihan-pelatihan Berbasis Teknologi

Zaman sudah berganti, maka teknis pemberdayaan SDM juga harus diperbarui.Misalnya, dengan membuat tes-tes berbasis komputer atau upgrade sistem perusahaan. Di pedesaan, perlu ada penyuluhan teknologi atau paling tidak pengenalan internet. Pelatihan semacam ini sejatinya bertujuan agar kualitas manusia meningkat agar efisiensi kerja bisa terwujud.

Contoh pelatihan yang bisa dilakukan adalah dengan mengenalkan dunia digital ke peserta pelatihan. Misal, di Lampung banyak perajin kayu untuk dibuat furnitur. Sayangnya, produk lokal ini tidak terlalu diminati karena punya desain yang monoton.

Maka, sebaiknya mereka diberi pelatihan pengenalan internet. Setelah tahu bagaimana cara mengkasesnya, mereka diarahkan ke website yang aplikatif dengan skill perajin tersebut, misal Pinterest. Di sana, mereka bisa melihat tren furnitur terbaru sehingga calon konsumen bisa dengan mudah dijaring. Pelatihan tidak bisa dilakukan sekali, melainkan diadakan secara rutin dan terstruktur.

Di akhir pelatihan, mereka diberi bekal pemasaran, kemudian diberi tantangan target furnitur yang harus terjual.

 

#4 Membuka Kesempatan untuk Seluruh Karyawan

Di banyak perusahaan, karyawan diperlakukan sebagai robot yang harus mengikuti segalam macam aturan dan kemauan direktur. Cara kerja dengan sistem pembantu dan majikan jamak di temui. Hasilnya, perusahaan akan begitu-begitu saja karena atasan terlalu menutup telinga.

Sebaiknya, perusahaan memberi ruang kepada karyawan untuk mengemukakan ide. Hal ini bisa dilakukan dengan mengadakan gathering, membuat layanan feedback, dan membuka diskusi antara divisi dengan atasan. Satu hal besar yang harus diperbaiki: atasan harus bersikap sebagai pemimpin yang merangkul seluruh karyawan, bukan boss yang membawa cemeti.

 

#5 Rewards sebagai Bentuk Dukungan

“Buat apa saya kerja ngoyo. Jangankan dapat penghargaan, diberi ucapan terima kasih pun tidak.”

Fenomena semacam itu masih banyak dijumpai. Di dalam keluarga, anak akan dibiarkan saja ketika punya prestasi. Tapi, ketika dia berbuat salah, seluruh anggota keluarga meghakiminya. Di kantor, atasan akan tersenyum bahagia ketika semua pekerjaan selesai dengan baik, tapi terlalu gengsi mengucapkan terima kasih kepada karyawan.

Peran rewards begitu penting untuk meningkatkan produktivitas. Dengan penghargaan, orang akan merasa dihargai. Lagi-lagi, sistem yang ada harus diubah. Tidak ada yang salah kok dengan berlaku manusiawi.

SDM Harus Kuat

Sumber daya manusia adalah poin penting dalam suatu negara. SDM yang kuat akan melahirkan produk berkualitas. Mimpi untuk menjadi negara maju akan lebih mudah dicapai jika hal ini terwujud. Di pelita keempat, swasembada pangan bukan lagi isapan jempol.



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved