Artikel
Haidir Algi
Sumber Daya Manusia untuk Indonesia Maju

Sepucuk Kesan Tegar oleh Sosok Lamban Belajar

Let’s be the catalyst! Empower all slow learner kids!

Sejak belia, saya seperti minoritas karena memang paling berbeda dari anak kecil pada umumnya. Saya baru bisa berjalan pada usia empat tahun, dan sanggup untuk berbicara saat usia delapan tahun. Faktanya, hal itu merupakan perkembangan motorik yang tidak ideal. Ternyata, saya tergolong anak slowlearner. Akibatnya, saya sangat susah memahami pelajaran di kelas. Saya benar-benar tertinggal dalam pembelajaran. Saya selalu dibully di sekolah dasar karena sering mendapatkan nilai nol, terus menerus dimaki ‘si jenong bodoh’, hingga tidak ada yang mau berteman dengan saya. Saat itu, hanya saudara-saudari dan para pengasuh panti saja yang mau berteman dengan saya. Padahal, kedua orang tua masih lengkap Alhamdulillah, akan tetapi saya berada di panti asuhan setiap waktu istirahat tiba, karena hanya mereka yang tidak pernah menghina kekurangan saya. Malahan, mereka selalu mengayomi saya untuk saling belajar dan bermain bersama setiap sorenya. Disana saya dibantu oleh seorang guru yang berdedikasi tinggi dan mengerti betul kondisi saya. Beliau memberikan saya kelas tambahan rutin setiap pulang sekolah selama enam tahun lamanya, sehingga saya mampu keep up the struggles. Saya bisa lulus SD tepat waktu dan menjadi satu-satunya anak slow learner yang sanggup bersaing di sekolah umum negeri. Itulah awal mula mengapa saya ingin menjadi seorang guru. Saya ingin membalas budi kepada anak-anak yang senasib dengan saya. Saya ingin mereka juga merasakan perhatian dan bantuan khusus seperti yang saya dapatkan dahulu kala. Saya yakin semua anak lamban belajar membutuhkan ketegaran sosok gurunya.  

Singkat cerita, pada tanggal 24 Juni sampai 6 Juli lalu, saya pulang dari Jakarta dan Maluku Utara dalam program Pengajar Jelajah Nusa 2019 bersama Yayasan Indonesia Mengajar dan Ultra Jaya. Selama dua minggu penempatan di Desa Indong Halmahera Selatan membuat saya merasa takjub akan anak-anak Indonesia Timur yang sangat semangat dalam belajar walaupun mereka memiliki banyak kendala dan keterbatasan. Mereka tidak memiliki akses listrik 24 jam seperti kita yang tinggal di kota, mereka harus menghadapi minim air bersih kadang kala, sinyal pun sangat susah disana, alat tulis dan fasilitas sekolah juga hanya seadanya saja, serta kedatangan seorang guru masih belum tentu hadir setiap hari untuk mereka. 

Lalu, ketika saya mampir dengan niat dan tekat, mereka pun menyambut saya dengan amat hangat. Perjalanan melelahkan lewat udara, laut, dan darat yang ditempuh seharian suntuk langsung hilang seketika saat melihat wajah gembira yang sudah menunggu di depan dermaga. Saya pun diajak berkeliling desa untuk saling menyapa warga bersilaturahmi sampai tiba dengan mama abah piara. Mirisnya, antusias belajar mereka yang sungguh luar biasa tidak setimpal dengan persediaan ilmu yang didapatkan. Saya sangat sedih ketika harus tahu bahwa ada banyak adik-adik kelas enam SD yang masih belum bisa calistung sama sekali. Tak berhenti disitu, pemuda-pemudi MTS dan SMK Listriknya pun masih tak mengenal Bahasa Inggris. Lebih parahnya lagi, mereka semua meyakini bahwa tempat pembuangan sampah terakhir itu adalah ke laut.

Akhirnya, saya mencoba membantu mereka dalam belajar serta memperbaiki kebiasaan dan pemahaman sanitasi yang masih keliru. Saya mengajarkan calistung, English speaking habits, three magical words, menyelenggarakan sanitation camping and outbound games, nyemplung ke tepi laut sambil memungut sampah plastik, memperkenalkan wawasan kebangsaan nusantara, saling unjuk budaya, mereka memperlihatkan tarian khas Halmahera Selatannya yakni ‘Tari Tide Tide’ sedangkan saya tak mau kalah juga menampilkan ‘Tari Pedak Borneo’ asal Kutai, serta melatih musicaldrama dan recorder instrument untuk malam pentas seni. Saya sungguh berterima kasih kepada Tuhan YME karena sudah memberikan saya lima hari yang lebih istimewa dan penuh warna. Membuat diri saya sendiri menjadi pribadi yang lebih bersyukur setiap harinya. Saya sangat kukuh untuk menggoreskan cerita positif disana. Sememangnya, kenangan indah itu sudah tergaris dalam sanubari kami semua.Terlebih lagi ketika saya bertemu dengan Raihan. Anak kelas dua SDN 020 Desa Indong ini bercita-cita untuk mempunyai kapal besi yang besar nan kuat supaya bisa menyelamatkan abahnya yang tenggelam karena diterjang ombak tinggi delapan bulan lalu. Dia masih sedih dan murung sampai saat itu. Ternyata, dia tergolong anak slow learner juga seperti saya dulu yang harus dibimbing ekstra oleh gurunya agar bisa terus keep up belajar. Sayangnya, sosok yang mengerti itu semua sudah pergi kedalam laut dan tak kunjung kembali. Jadi, saya berusaha untuk membimbingnya secara privat seperti apa yang sudah guru saya dan abahnya lakukan. Alhasil, dia bisa hafal materi Englishalphabet dan numeral yang sudah saya ajarkan kemarinnya di kelas.

Sedih dan pilu rasanya ketika saya harus pergi dari keluarga cemara ini. Harus berpisah dengan kawan-kawan yang sangat nafsu untuk belajar. Harus mengucapkan selamat tinggal kepada pemuda-pemudi MTS dan SMK Listrik yang memiliki ribuan pertanyaan tentang kuliah di pulau Jawa. Terharu saat harus berpamitan dengan mama abah piara yang selalu memasakkan papeda setiap harinya. Sangat menangis hati ini bagai diiris sembilu ketika harus meninggalkan si Raihan yang masih membutuhkan bimbingan dan dukungan morel.

Sejak pepatah bilang kalau setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, mau tidak mau saya harus menerima takdir-Nya. Saya yakin bahwa setidaknya saya sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi kader edukasi yang nyata di pelosok desa. Saya percaya bahwa saya sudah menjadi bagian dari generasi unggul kebanggaan bangsa yang melakukan aksi budi teruntuk ibu pertiwi tercinta. Saya ingin terus berjuang untuk negeri terkasih walau hanya melalui sebuah gerakan inisiatif sederhana, namun percayalah hal itu akan berdampak luas dan sangat membekas bagi anak-anak yang kita sapa jumpa.

 



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved