Artikel
Solikhatun
Sumber Daya Manusia untuk Indonesia Maju

RENUNGAN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PERUNDUNGAN BAGI ANAK USIA SEKOLAH

Melihat perkembangan pendidikan di Indonesia, bisa dikatakan belum optimal. Banyaknya sekolah yang berdiri di tanah air, harus dibarengi dengan mentalitas civitas akademika sekolah yang memiliki sikap dan perilaku yang mendukung kemajuan dunia pendidikan Indonesia.

Masih banyak berita mengenai perundungan atau yang sering disebut “bullying” yang terjadi pada anak-anak di Indonesia.

Mirisnya, hal ini kerap terjadi pada anak-anak usia sekolah. Guru yang berperan sebagai orang tua di sekolah harus lebih banyak menaruh perhatian terhadap sikap dan perilaku anak didiknya selama di kelas.

Kasus perundungan yang terjadi pada anak-anak usia sekolah perlu mendapat perhatian khusus oleh presiden dan wakil presiden terpilih yaitu Jokowi - Ma'ruf Amin. Melihat berita yang banyak ditampilkan di televisi, perundungan yang terjadi di anak-anak usia sekolah memiliki dampak yang sangat mengkhawatirkan bagi masa depan anak korban perundungan. Anak korban perundungan dapat memiliki trauma yang bisa menghambat perkembangan sosial dan psikologisnya.  

Sebagai contoh, ketika anak usia sekolah dasar sudah akrab dengan cacian atau kata-kata kasar yang dilontarkan untuk dirinya, dia akan menganggap hal itu sebagai hal biasa sehingga kepada orangtuanya dia bisa juga melontarkan kata-kata kasar tersebut. Hal ini tentu melanggar norma kesopanan dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang berusaha ditanamkan kepada generasi muda Indonesia.

Selain berdampak pada sikap sosial anak kepada orang lain akibat “perundungan verbal”, adanya perundungan dalam bentuk “kekerasan fisik” juga membuat kekhawatiran yang lebih serius. Masih adanya anak usia sekolah yang diberitakan mendapatkan perundungan secara fisik juga dapat berpengaruh secara signifikan terhadap kondisi psikologis anak korban perundungan.

Anak usia sekolah yang mengalami pemukulan oleh teman seusianya, dipastikan memiliki trauma dan kecenderungan untuk menjadi ‘pendendam’. Seperti berita yang disiarkan di televisi, anak sekolah yang kerap dipukuli oleh teman sebayanyamenjadi trauma berangkat sekolah, menjadi anti-sosial (menarik diri dari lingkungan) karena tidak berani lapor kepada orangtua maupun kepada guru, sehingga dapat menghambat kesempatan-kesempatan emas yang bisa didapatnya dibandingkan jika ia mampu mengendalikan emosi-emosi tersebut.

Anak korban perundungan di sekolah menjadi trauma berangkat sekolah, kalaupun bisa diberikan solusi untuk pindah sekolah, belum tentu nanti di sekolah baru ia akan mampu bersosialisasi dengan baik ke teman-teman barunya. Hal ini layak menjadi perhatian khususnya oleh Kementerian Pendidikandan Kebudayaan Republik Indonesia.

Disini penulis mengusulkan ide untuk membantu mencegah adanya “faktor penyebab munculnya perundungan di sekolah” yaitu dengan diadakannya renungan tambahan yang diberikan sebelum memulai pelajaran pada pagi hari dan sebelum jam pulang sekolah, yang disampaikan secara langsung oleh guru yang mengampu pelajaran.

Renungan tambahan atau bisa disebut refleksi, dilakukan sebelum memulai pelajaran, yaitu setelah berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Setelah selesai berdoa, guru yang mengampu mata pelajaran di pagi hari itu memberikan ulasan atau nasihat mengenai keberagaman bangsa Indonesia, atau bisa juga memberikan cerita singkat mengenai kebudayaan di suatu daerah.

Inti cerita adalah memberikan wawasan kepada anak didik bahwa Indonesia adalah negara yang bhinneka, jadi ada banyak suku, ras, agama, ciri fisik, maupun kebudayaan yang beragam sehingga perlunya sikap menghargai dan toleransi terhadap tiap-tiap individu sebagai suatu kesatuan bangsa Indonesia.Diharapkan pada era kepemimpinan Jokowi - Ma'ruf Amin tahun 2019-2024 ini tidak akan terdengar adanya kasus perundungan lagi utamanya bagi anak usia sekolah demi menciptakan mentalitas dan perilaku manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur.



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved