Artikel
Romi Febriyanto Saputro
Destinasi Pariwisata Indonesia

Agar Bali Baru Seindah  Bali !

Tahun 2018, Kementerian Pariwisata punya tugas untuk mendatangkan 17 juta wisatawan mancanegara (wisman). Hasil perhitungan Badan Pusat Statistik mencatat  ada 15,81 juta kunjungan wisman pada 2018. Dengan demikian target jumlah kunjungan wisman tak tercapai. Namun bila dibandingkan tahun 2017, jumlah tersebut naik 12,58 persen. Bandara Ngurah Rai Bali pada tahun 2018 masih menjadi favorit wisman, dengan total 6.026.437 wisman yang masuk. Bandara Soekarno Hatta sebanyak 2.812.482 wisman, dan Bandara Juanda di 332.964 wisman.

Namun demikian, peringkat indeks daya saing pariwisata Indonesia di dunia naik menjadi peringkat 40 dari 140 negara di tahun 2019 dari peringkat 42 di tahun 2017. Hal itu berdasarkan Laporan The Travel & Tourism Competitiveness Report yang dirilis WEF ( World Economic Forum) 2019 baru-baru ini. Di kawasan Asia Tenggara, indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di peringkat empat. Indonesia meraih skor 4,3 dari total penilaian pilar-pilar seperti lingkungan bisnis, keamanan, kesehatan dan kebersihan, sumber daya manusia dan lapangan kerja, keberlanjutan lingkungan dan lainnya.

Data di atas menunjukkan bahwa Bali masih menjadi destinasi wisata favorit sepanjang tahun 2018. Kementerian Pariwisata sudah mencanangkan program pariwisata baru dengan tajuk “10 Bali Baru”. Kesepuluh destinasi wisata yang diharapkan sejajar dengan Bali ini adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Pulau Seribu, Candi Borobudur, Mandalika, Gunung Bromo, Wakatobi, Labuan Bajo, dan Morotai.

Bali Baru adalah harapan negeri ini untuk menarik devisa yang lebih besar lagi dari dunia pariwisata. Satu Bali saja sudah menyumbangkan devisa yang begitu besar apalagi kalau sepuluh ?  Pulau Bali bahkan  jauh lebih populer daripada nama Indonesia sebagai surga pariwisata. Sejak zaman kolonial Bali sudah dikenal oleh dunia internasional sebagai pulau yang penuh dengan keindahan alam. Ada surga dunia di Hindia Belanda begitu dunia internasional mengenal Bali.

Walter Spies adalah pelukis Jerman kelahiran Rusia yang berjasa membuat keindahan Bali menjadi viral pada masa itu. Dikutip dari tulisan Faisal Irfani di tirto.id, 19 Jamuari 2019,  selama di Bali, Spies telah menghasilkan beberapa karya, seperti Balinese Legend (1929), Buyansee (1934), sampai A View from the Heights (1934). Puncak artistik Spies bisa dilihat pada Mountains and Pond (1938). Lewat lukisan ini, Spies dianggap berhasil menyajikan ketenangan Bali secara paripurna.

Tak sekadar melukis, Spies juga terlibat secara aktif proyek dan kegiatan seni lainnya. Ia menjadi koreografer, desainer, naturalis, fotografer, kurator, hingga konsultan film. Sederet predikat tersebut membikin Spies seperti selebritas. Dengan statusnya ini pula, Spies sering kali menjadi pemandu para tamu asing yang ingin melihat Bali secara langsung, tak semata dari bingkai lukisan. Tamu-tamu Spies bukan orang sembarangan : bintang film, miliarder, hingga bangsawan.

Keberhasilan Bali sebagai magnet pariwisata internasional tidaklah diperoleh secara instan. Ada proses panjang dan berliku yang dilalui oleh Bali untuk menjadi destinasi wisata terbaik di tanah air. Agar proses “copy paste” dari Bali menjadi Bali Baru ini berjalan dengan baik ada beberapa hal yang perlu dilakukan, pertama, memastikan sarana dan prasarana di Bali Baru sudah siap meyambut kedatangan wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Toilet yang bersih adalah fasilitas minimal yang terkadang banyak dilupakan oleh destinasi wisata di tanah air. Pemeliharaan fasilitas toilet terkesan sekedar menggugurkan kewajiban saja. Padahal tidak ada salahnya jika pemeliharaan fasilitas toilet meniru pemeliharaan fasilitas toilet di Bandara Internasional. Setiap saat selalu dijaga petugas kebersihan.

Kedua, melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar di Bali Baru agar memberikan dukungan dan kontribusi untuk menyambut wisatawan. Hal ini masih jarang dilakukan oleh pemerintah maupun para pengelola obyek wisata. Masyarakat masih ada yang merasa tidak berkepentingan dengan obyek wisata yang ada di dekatnya. Padahal kue pariwisata dapat dinikmati bersama oleh pengelola pariwisata dan masyarakat.

Kunci sukses Pariwisata Bali adalah ada sinergi yang baik antara pengelola pariwisata dan masyarakat. Masyarakat Bali adalah manusia yang paling ramah meyambut kedatangan wisatawan tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan. Senyuman mereka mudah ditemukan di berbagai sudut jalan. Keramahan mereka semakin istemewa dengan loyalitas mereka terhadap warisan budaya leluhur. Sebuah loyalitas yang berujung kepada  lahirnya destinasi wisata budaya yang mengagumkan.

Ketiga, menjalin kemitraan dengan para pemangku kepentingan di Bali Baru agar menciptakan suasana yang nyaman bagi para wisatawan. Bali adalah teladan terbaik dalam menjalin kemitraan dengan para pemangku kepentingan. Kenyamanan bagi wisatawan merupakan harga mati bagi sebuah destinasi wisata. Kenyamanan ini merupakan tanggung jawab semua pemangku kepentingan seperti  penyedia jasa transportasi, jasa penginapan, rumah makan, penjual souvenir  dan pemandu wisata.

Pengalaman Jirote Wangcharoen,  wisatawan asal Thailand yang sempat viral di media sosial karena mengalami kejadian yang tidak menyenangkan ketika mencari jasa transportasi ke Bromo tidak boleh terulang. Wisman memang sangat rentan untuk “dikepruk” oleh jasa transportasi yang menganut aji mumpung dalam menentukan tarif. Tarif “super ngepruk” ini dialami oleh Jirote baik dalam pergi maupun pulang dari kawasan wisata Gunung Bromo Jawa Timur tak akan terjadi jika ada komunikasi yang baik antara pemerintah dengan pemangku kepentingan.

Keempat, menguatkan komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam membangun Bali Baru sehingga dapat seiring dan sejalan dalam pelaksanaan di lapangan. Presiden RI, Joko Widodo baru-baru ini menegaskan akan memberikan prioritas kepada Danau Toba, Candi Borobudur, Labuan Bajo dan Mandalika dalam membangun Bali Baru.  Potensi wisata dari empat Bali Baru ini diperkirakan dapat menyumbang devisa sebesar Rp 62,7 triliun.

Komitmen pemerintah pusat ini tentu harus disambut dengan baik oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tempat destinasi wisata itu berada. Pendanaan dari pusat harus sinkron dengan pendanaan dari daerah dalam menentukan skala prioritas pembangunan infrastruktur industri pariwisata. Proses pembangunan perlu dikawal dengan baik agar pada tahun 2020 sudah siap menjadi Bali Baru seperti harapan presiden.

Kelima, melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar Bali Baru sehingga masyarakat merasa memiliki Bali Baru. Buah dari edukasi kepada masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat di sekitar obyek pariwisata. Dalam buku yang berjudul “Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali” yang diterbitkan oleh Program Studi Magister Pariwisata Universitas Udayana (2015) terungkap bahwa banyak destinasi wisata di Bali yang berkembang pesat justru ketika dikelola oleh masyarakat.

Terasering Ceking merupakan daya tarik yang banyak dikunjungi wisatawan selain karena keindahannya, juga karena lokasinya yang tidak jauh dari kantong pariwisata Ubud dan searah dengan daya tarik wisata lainnya seperti Tampaksiring dan Kintamani. Daya tarik wisata ini dikelola oleh Badan Pengelola Objek Wisata Ceking (BPOWC) mulai tahun 2011. Badan ini dibentuk oleh Desa Pakraman Tegallalang.

Menariknya, dari pembagian pendapatan pengelolaan daya tarik wisata Ceking, pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar khususnya Dinas Pariwisata tidak mendapatkan bagian dari pendapatan BPOWC. BPOWC diberikan hak sepenuhnya dalam mengelola dan memanfaatkan hasil dari pendapatannya karena daya tarik Ceking masih dalam tahap pengembangan dan penataan. Jika nanti pengelolaan sudah mapan, kontribusi kepada Pemerintah Kabupaten Gianyar akan diwujudkan,

Bali Baru diharapkan dapat  memberikan peran yang lebih besar kepada masyarakat. Artinya pemerintah perlu menerapkan strategi pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Masyarakat perlu dilibatkan menjadi subyek pembangunan pariwisata bukan sekedar obyek pembangunan saja.  Agar Bali Baru seindah Bali !

 



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved