Artikel
Tri Fadhilah Hudayah Rasjidi
Harapan Baru kepada Presiden Jokowi

SECERCAH HARAPAN UNTUK BAPAK PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Setiap orang pasti mempunyai harapan dan mimpi. Begitupun saya, sewaktu kecil saya sering sekali bermimpi-mimpi ingin jadi putri seperti Aurora , tokoh fiksi yang memiliki paras yang cantik yang dilahirkan dengan diiringi kebahagiaan serta kemewahan hidup di istana. Sekarang, setelah saya berusia 18 tahun, tidak ada lagi harapan dan mimpi-mimpi menjadi tokoh fiksi itu. Persepsi saya bahkan berubah yang tadinya berharap menjadi tokoh fiksi yang hidup di dalam istana kerajaan itu hanya merupakan cerita dongeng semata yang di tulis ceritanya, dibuat animasinya oleh manusia.

Yang selajutnya mimpi saya yang dulunya menjadi putri berubah menjadi penulis saja. Menulis merupakan cara paling ampuh mengungkapkan isi kepala dan hati tanpa perlu mengeluarkan suara. Karena saya tidak pandai dalam berkata-kata , dan kecenderungan sifat saya adalah diam namun bagaimana jika dengan diam saya ini dapat di dengarkan banyak orang, pilihanku jatuh pada menjadi penulis.

Sekarang saya ingin mengemukakan harapan dan impian saya untuk pemerintahan Bapak Jokowidodo dan Bapak KH. Ma’ruf Amin. Tetapi ,Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat atas dilantiknya Bapak Ir. H. Joko Widodo dan Bapak Prof. Dr. KH. Maruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2019-2024.

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju. Hal ini terlihat dari kekayaan alam yang melimpah serta tingkat kecerdasan yang tak berbeda dengan penduduk di negara maju. Indonesia sudah merdeka selama 74 tahun. Banyak orang yang beranggapan bahwa Indonesia benar-benar merdeka, namun sejatinya Indonesia belum benar-benar merdeka terutama dalam hal pendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan tidak meratanya pendidikan antara orang kaya dengan orang miskin, terlebih lagi perbedaan antara di kota dengan di pedalaman, sangat jauh sekali.

Bukan rahasia lagi bila anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman sangat sulit mendapatkan kehidupan yang layak seperti anak-anak pada umumnya. Saya sendiri berasal dari Kota Kotamobagu, yang merupakan salah satu Kota kecil yang berada di Sulawesi Utara.

Saya menitik beratkan harapan saya untuk pemerintahan Bapak Jokowi dan Ma’ruf Amin ini pada masalah pendidikan. Dimana masalah mengenai pendidikan ini pun sangat dirasakan oleh saya. Sejak duduk dibangku SD hingga SMK, saya mengamati sekaligus merasakan kurangnya pendidikan yang layak bagi sekolah-sekolah di Kotamobagu. Mulai dari fasilitas sarana dan prasarananya seperti gedung, laboratorium dan Guru(tenaga pengajarnya). Banyaknya jam belajar mengajar yang kosong disebabkan oleh kurangnya tenaga pengajar menyebabkan banyak murid yang tidak belajar sehingga memilih untuk bolos. Padahal tenaga pengajar ( guru ) memiliki peran penting dalam rangka pembangunan nasional di bidang pendidikan karena mengemban tugas sejati bagi proses kemanusiaan, pemanusiaan, pencerdasan, pembudayaan, dan pembangunan karakter bangsa.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa, kekurangan guru pun disebabkan oleh kurangnya gaji yang di dapatkan dari profesi ini terutama bagi guru honorer, sehingga banyak orang yang kurang menyenangi profesi ini. Selain masalah gaji juga menyangkut kualitas tenaga pengajarnya,ada sebagian guru honorer yang berkualitas, tapi tidak sedikit yang berkualitas rendah. Mereka direkrut bukan berbasis pada kompetensi, tapi karena punya hubungan baik dengan sekolah perekrut. Akibatnya , kualitas muridnya pun sama seperti kualitas gurunya. Hal ini juga yang dirasakan penulis sendiri, dimana proses belajar mengajar di kelas hanya sebatas membaca dan mencatat apa yang dibaca saja diberi nilai dan pulang.

Selama bersekolah pun begitu jarang sekali kami merasakan adanya kegiatan praktek di laboratorium, bahkan untuk pertama kalinya penulis melihat mikroskop itu secara langsung nanti saat duduk di bangku SMK, itupun hanya sekedar melihat dan mengetahui teorinya tapi tidak pernah menggunakan dan mempraktekannya secara langsung. Dengan contoh yang saya rasakan ini,saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional kita masih jauh dari kata layak.

Akibatnya dari proses pendidikan yang kurang layak itu membuat generasi muda di daerah-daerah kecil tidak memiliki keterampilan sehingga tidak bisa mengubah nasibnya nanti baik dalam segi pengetahuan maupun finansial karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki pun membuat mereka tidak bisa bersaing dengan perkembangan zaman.

Selanjutnya, mengenai keterbatasan ekonomi daerah kecil pun menjadi faktor pembatas saat anak-anak dari daerah kecil ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Bagaimana tidak,saat ilmu yang saya dapatkan semasa sekolah yang hanya sekedar ketika dihadapkan oleh persaingan menjadikan saya merasa yang terbodoh di antara terpintar. Keterbatasan finansial keluarga menjadikan banyak dari kami anak-anak kotamobagu memikirkan beribu kali untuk dapat bersekolah di luar Sulawesi utara karena keterbatasan Biaya. Mencoba peruntungan dengan mencari beasiswa pun sangat sukar kami dapatkan mengingat persaingan yang kuat serta bukan menjadi rahasia lagi faktor ‘orang dalam’ pun berpengaruh.

Sekarang, saya sedang menempuh pendidikan Strata 1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta , Alhamdulillah saya diterima di sini melalui jalur prestasi. Sebelumnya saya telah coba mengikuti tes UTBK di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia namun lagi-lagi karena persaingan yang kuat membuat saya tidak dapat menembus universitas yang saya idamkan tersebut.

Masalah pendidikan merupakan faktor penting dalam membangun Indonesia kedepan. Bagaimana jadinya jika generasi muda tidak di bekali dengan pendidikan yang layak. Terlebih sekarang kita di suguhkan dengan adanya teknologi yang sangat canggih yaitu ‘gedget’ yang berpengaruh besar terhadap pola hidup masyarakat.

Disinilah perlunya pemerintah semakin giat mendorong masyarakat untuk memahami pentingnya Pendidikan terhadap semua anak Indonesia. Sebab perkembangan suatu bangsa sangat ditentukan dari tingkat pendidikan bagi masyarakatnya. Lewat pendidikan, generasi cemerlang yang merupakan calon pemimpin bangsa itu lahir. Oleh karena itu, pendidikan sangat diperlukan untuk menciptakan lahirnya para generasi muda cemerlang penerus bangsa.

Harapan besar dari saya melalui tulisan saya ini ingin sampaikan terutama kepada pemerintahan Bapak Jokowi dan Bapak Ma’ruf Amin dalam hal ini juga saya tujukan kepada Bapak Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan yang baru saja di lantik Bapak Nadiem Makarim.

Bapak Nadiem Makarim memang tidak banyak dikenal dunia pendidikan. Bapak Nadiem dikenal sebagai salah satu distruptor di bidang transportasi Indonesia dengan aplikasi Gojek.Namun , berangkat dari latar belakangnya yang merupakan sosok yang mumpuni di bidang teknologi sehingga diharapkan bisa mewujudkan visi misi Presiden di bidang pendidikan.

Namun, saya tidak hanya mengharapkan kinerja dari pemerintah saja, karena saya menyadari bahwa saya sendiri pun memiliki peran dan andil besar dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik kedepannya.

Mengutip pidato pertama dari Bapak Jokowidodosebagai presiden terpilih pada Pilpres 2019 di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Pada penutupan pidatonya beliau mengatakan:

‘’ Indonesia Maju adalah Indonesia yang tidak ada satu pun rakyatnya tertinggal untuk meraih cita-citanya. Indonesia yang demokratis, yang hasilnya dinikmati oleh seluruh rakyat. Indonesia yang setiap warga negaranya memiliki hak yang sama di depan hukum. Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kelas dunia. Indonesia yang mampu menjaga dan mengamankan bangsa dan negara dalam dunia yang semakin kompetitif. Ini bukanlah tentang aku, atau kamu. Juga bukan tentang kami, atau mereka. Bukan soal Barat atau Timur. Juga bukan Selatan atau Utara. Sekarang bukan saatnya memikirkan itu semua. Tapi ini saatnya memikirkan tentang bangsa kita bersama. Jangan pernah ragu untuk maju karena kita mampu jika kita bersatu! ‘’



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved