Artikel
Adhi Nugroho
Memanfaatkan Ekonomi Digital

Selamat Datang QR CodeTunggal

Aturan anyar pembayaran digital telah tersiar. Di sela panasnya perang diskon tekfin pembayaran, Bank Indonesia (BI) mengembuskan angin segar dengan meluncurkan QRIS (Quick Response Indonesian Standard) alias standar nasional QR Code Pembayaran. Langkah ini diambil bank sentral demi alasan efisiensi. Alih-alih berdiri sendiri, transaksi QR Code kini menjadi saling terkoneksi.

Sebelum QRIS hadir, transaksi QR Codefaktanya memang terfragmentasi. Satu QR Code hanya bisa dipindai olehsatu aplikasi. Ketiadaan interoperabilitas atau saling keterhubungan antar-penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP) menjadi penyebabnya.Dalam perspektif luas, keterbatasan ini bermuara pada dua hal: inefisiensitransaksi dan tingginya hambatan masuk industri.

Muara pertama, inefisiensi, lazim menekuri pelaku pembayaran digital. Konsumen perlu membuka banyak akun dompet digital agar leluasa bertransaksi. Sebaliknya pun demikian. Pelaku bisnis mesti mengoleksi beragam QR Code demi menarik hati pelanggan.

Dengan kata lain, dibutuhkan investasi tambahan untuk menyediakan berbagai kanal pembayaran. Bagi pelaku usaha mikro, kondisi initentu jauh dari kata ideal. Apalagi, BPS menyebut 98,68 persen jenis usaha di Indonesia masuk ke dalam barisan ini.

Dari kacamata industri, PJSP seolah baku hantam demi memenangi ketatnya persaingan bisnis pembayaran digital. Praktik bakar uang lewat diskon besar-besaran menjadi jalan pintas untuk memperluas basis pelanggan dan memperbesar kue pasar.

Akibatnya, struktur pasar kian meruncing. Tak seperti kisah David melawan Goliath, start-up bermodal tipis terpaksa diakuisisi atau gulung tikar lantaran kalah bersaing dengan rintisan bermodal tebal.

Tumbangnya start-up pembayaran di berbagai negara seakan mengafirmasi premis di atas. Sebut saja Spence (Singapura), Stratos dan Pay By Touch (Amerika Serikat), Powa (Inggris), hingga Zebpay (India). Sebaliknya, trio raksasa pembayaran digital asal Tiongkok—WeChat Pay, Alipay, dan QFPay—semakin tak tersaingi. Di Tanah Air, kita pernah punya Inapay, rintisan penyedia rekening bersama, yang tutup pada 2015 setelah baru setahun beroperasi.

Mencermati fenomena yang terjadi, otoritas tidak tinggal diam. BI menerbitkan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) No.21/18/PADG/2019 tentang Implementasi Standar Nasional QR Codeuntuk Pembayaran.Beleid ini diartikan sebagaiupaya antisipatif bank sentral untuk menciptakan ekosistem pembayaran digital yang lebih sehat dan efisien.

PJSP diberi masa transisi untuk mengganti QR Code-nya dengan standar nasional hingga akhir tahun ini. Mulai 1 Januari 2020 nanti, semua pedagang ber-QR Code wajib menggunakan QRIS.

Kemunculan QRIS di tengah maraknyatransaksi pembayaran digital sontak melegakan semua pihak. Konsumen bebas memilih aplikasi pembayaran sekalipun berbeda dengan milik pedagang. Di sisi lain, pedagang hanya perlu menyediakan satu QR Code untuk semua pembayaran.Singkat kata: mudah dan praktis.

Lantaran minim biaya investasi, hadirnya QRIS berpotensi mendorong inklusi keuangan dari kalangan UMKM. Untuk memperoleh stiker QRIS, paling tidak, pelaku UMKM mesti membuka akun dompet digital besutan PJSP bank ataupun non-bank. Imbasnya, penggunaan uang tunaidalam transaksi kecil dapat diminimalisasi.

Tak hanya praktis, QRIS pun turut meningkatkan kapasitas bisnis. Adanya riwayat transaksi elektronis memudahkan pelaku UMKM dalam membuat laporan keuangan, mengembangkan usaha, hinggamengajukan pembiayaan.Dari sisi lembaga keuangan, kondisi ini ditengarai akan mengakselerasi fungsi intermediasi dan pembiayaan perekonomian.

Sedangkan dari kacamata industri, standardisasi QR Codemampumeredam tensi persaingan bisnis yang kian meninggi. Hambatan masuk sedikit melonggar, membuka ruang kompetisi yang lebih adil dan merata.

Adanya kewajiban penerapan anti-pencucian uang dan pendanaan terorisme, prinsip mengenal nasabah/pelanggan, serta keandalan sistem;turut meningkatkan aspek keamanan dalam bertransaksi. Dalam jangka menengah-panjang, struktur pasar yang aman dan kondusif diyakini akan menciptakan efisiensi industri pembayaran digital.

 

Ladang Harapan

Pada tataran strategis, QRIS adalah buktikesungguhan BI dalam mewujudkan Visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025. Mulai dari integrasi ekonomi keuangan digital, digitalisasi perbankan, koneksi tekfin dengan perbankan, menjaga keseimbangan inovasi dan stabilitas, hingga menjamin kepentingan nasional dalam transaksi ekonomi antarnegara.

Oleh karenanya, QRIS juga mengadopsi standar internasional EMV Co (Europay, Mastercard, dan Visa).Standar ini telah menjadi acuan kanal pembayaran di berbagai negara di dunia. Mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, India, hingga Korea Selatan. Alhasil, QRIS tidak hanya menyatukan transaksi antar-PJSP di dalam negeri saja, tetapi juga menjamin interoperabilitas PJSP lintas negara.

Ditinjau dari aspek makroekonomi, konektivitas QRIS dengan PJSP global membawa angin segar bagi sektor pariwisata nasional. Tanpa harus membawa uang tunai, wisatawan mancanegara bebas berbelanja di dalam negeri melalui QRIS. Syaratnya, aplikasi pembayaran yang digunakan sudah menjalin kerja sama dengan bank BUKU 4.Dengan demikian, laju perolehan pundi-pundi devisa bakal semakin kencang.

Setiap transaksi QRIS, baik yang berasal dari dalam negeri maupun lintas negara, seluruhnya dilakukan melalui kanal Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Itu berarti, pencatatan dan penyelesaian transaksi dilakoni di dalam negeri. Alhasil, pengawasan dan perumusan kebijakan bank sentral menjadi lebih tepat dan akurat.

Satu hal yang pasti, kita tidak ingin besarnya potensi ekonomi-keuangan digital layu sebelum berkembang. Laporan Google bertajuk e-Conomy SEA 2019 menyebut nilai transaksi perdagangan elektronik Indonesia telah menembus angka 21 miliar Dolar AS—paling tinggi se-Asia Tenggara. Pada 2025 nanti, nilai transaksi diprediksi bakal melonjak hingga 82 miliar Dolar AS. Sebagai kanal pembayaran digital, QRIS diyakini mampu menjadi jalan untuk menggapai potensi tersebut.

Menilikberbagaimanfaat di atas, tak berlebihan bilaBImelabeli QRIS dengan tema UNGGUL (Universal, Gampang, Untung, Langsung).Pada akhirnya, QRIS ibarat benih digital di ladang harapan. Kehadirannya memacu geliat ekonomi digital lewat pilihan transaksi yang lebih praktis dan beragam.Tugas kita ialah merawat dan memupuk benih itu agar tumbuh subur. Caranya, gunakanlah QR Code Tunggal ini pada setiap kesempatan.



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved