Artikel
Evelyn Mulyani
Sumber Daya Manusia untuk Indonesia Maju

Batu yang Menjegal Sistem Pendidikan Indonesia

Seiring dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, menjadikan arus pertukaran informasi berkali-kali lebih cepat. Seharusnya momen tersebut dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk membawa dampak positif bagi sistem pendidikan Indonesia.

Pemerintah dapat memanfaatkan teknologi informasi sebagai salah satu sarana pembelajaran siswa seperti penggunaan e-learning sebagai media pembelajaran. Di Indonesia sendiri, telah muncul berbagai platform rintisan generasi muda Indonesia yang berhasil mencuri perhatian siswa karena bimbingan berbasis aplikasi ini dinilai membantu siswa dalam proses belajar.

Aplikasi yang dimaksud seperti Ruangguru, Zenius dan Quipper yang terbukti telah menjadi andalan dalam pembimbingan belajar secara daring. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, sejatinya pendidikan di Indonesia tidak mengalami kemajuan yang berarti. Berdasarkan indikator World Competitiveness Index, di dalam bidang ketrampilan Sumber Daya Manusia (SDM), Indonesia menempati peringkat 65 dari 141 negara. Sedangkandi dalam aspek kapasitas inovasi, Indonesia bertengger di peringkat 74 dari 141 negara.

Salah satu alasan yang dapat melatarbelakangihal tersebut adalah terdapat perihal yang cukup mengganjal di sistem pendidikan Indonesia. Isu krusial ini sering tidak mendapat sorotan dari pemerintah.Pada kenyataannya tanpa kita sadari sistem pendidikan yang telah ditertanam kuat di Indonesia adalah budaya menghafal.

Sejak mengeyam pendidikan di sekolah dasar, siswa sudah diminta untuk menghafalkan berbagai mata pelajaran dan dituntut untuk menguasai semua pelajaran yang diberikan. Sedangkan tidak semua siswa memiliki ketrampilan untui menguasai semua bidang pelajaran yang telah dikurikulumkan. Konsentrasi siswa akan cenderung untuk terbagi dan tidak bisa maksimal untuk menguasai satu aspek secara detail.

Indonesia dapat menjadikan sistem pendidikan negara yang sudah maju sebagai acuan untuk merevitalisasi sistem pendidikan yang ada. Seperti sistem pendidikan yang diterapkan di United Kingdom (UK), semakin tinggi jenjang pendidikannya maka jumlah pelajaran yang diajarkan akan terus berkurang tetapi semakin terfokus dalam jurusan yang dipelajari. Hal ini akan berdampak pada penggalian pengetahuan dan penguasaan ketrampilan yang lebih mendalam mengenai bidang tersebut. Sehingga dapat menghasilkan lulusan yang lebih terampil.

Tidak hanya dalam pemfokusan jurusan, sistem pendidikan Indinesia juga masih bermasalah dalam bidang pengevaluasian. Siswa di Indonesia pada akhirnya akan diberikan ujian sebagai tolak ukur keberhasilan belajar. Ujian-ujian yang diberikan cenderung dalam bentuk hafalan seperti mengisi tanggal-tanggal sejarah atau mengingat suatu tempat atau definisi.

Prestasi akademis ditentukan oleh nilai yang diperoleh oleh siswa tersebut. Siswa yang berhasil mengingat dan menghitung dengan tepat dinyatakan lebih unggul daripada siswa lainnya. Jika kondisi ini dibiarkan terus menurus dapat menumpulkan kreatifitas dan inovasi siswa karena siswa diharuskan untuk menghafal dan menjawab soal dengan metode yang ditentukan. Bukan dengan menggali potensi yang ada dalam dirinya.

Padahal di era digital ini, inovasi sangat diperlukan untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Jack Ma, selaku founder dari Alibaba, menyatakan bahwa pendidikan yang diajarkan sekarang tidak cukup relevan dengan perkembangan jaman karena pendidikan sekarang hanya mengacu pada aspek akademis seperti mengingat, menghitung dan mengelola data. Sementara itu, fungsi-fungsi di atas kedepannya dapat digantikan oleh Artificial Intelligent (AI) atau yang sering dikenal dengan kecerdasan buatan.

Untuk memitigasi permasalahan-permasalahan yang akan dihadapi di dalam bidang pendidikan khususnya di Indonesia. Pemerintah perlu mengadakan pembenahan pada sistem pembelajaran di Indonesia. Dengan cara merubah tata cara pengujian indeks prestasi siswa, yang dahulu hanya menguji tentang tanggal, tempat dan definisi pasti di dalam ujian menjadi pertanyaan terbuka dengan menggunakan mengapa, bagaimana pendapat sehingga membuat siswa dapat berinovasi dan bereksperimen dengan pola pikir yang kritis. Peristiwa ini jika berhasil ditanamkan di Indonesia, pada akhirnya akan menyebabkan kreatifitas siswa dapat dikembangankan dengan lebih baik di masa-masa mendatang.

 Selain itu, prosedur yang perlu diambilpemerintah adalah pengkajian ulang terhadap metode seperti berfokus pada mata pelajaran yang diambil di saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Menengah Atas (SMA) sehingga siswa dapat berkonsentrasi untuk mempelajari bidang yang diminati dan dikuasainya serta tidak memaksa siswa untuk menguasai semua pelajaran menjadikan mata pelajaran sebagai pilihan.

Sejatinya, sistem pendidikan Indonesia telah mengalami kemajuan menunjukan perubahan yang optimistis. Sebagai salah satu contohnya adalah tindakanpemerintah pada tahun 2017 yang dirasa tepat untuk memperbaiki sistem pendidikan Indonesia, dengan memberikan pilihan pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk memilih satu mata pelajaran di bidang Ilmu Pengetahuan Alam maupun Ilmu Pengetahuan Sosial yang akan diujikan di Ujian Nasional (UN). Sebelumnya siswa harus menempuh 3 mata pelajaran pada setiap bidang.

Hal ini merupakan langkah awal yang tepat untuk membenahi sistem pendidikan Indonesia. Dengan terusmelakukan aksi perubahandan penyorotan pada pentingnya aspek yang selama ini belum menjadi perhatian pemerintah, diharapkan sistem pendidikan Indonesia dapat terus mengalami kemajuan di masa-masa mendatang.

Karya:

Evelyn Mulyani

Referensi:

https://www.weforum.org/reports/global-competitiveness-report-2019

https://www.google.co.id/amp/s/amp.kompas.com/money/read/2019/10/22/063700726/jack-ma-sebut-dirinya-bakal-sulit-dapat-kerja-di-alibaba-saat-ini-mengapa



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved