Artikel
Peter Samuel Oloi
Sumber Daya Manusia untuk Indonesia Maju

CutiKesehatan Mental bagi Pekerja Milenial demi Kemajuan Indonesia

Bappenas (Badan Perencanaan Pembangungan Nasional) telah mencatat bahwa di Indonesia terdapat 63 juta milenial atau penduduk yang berada pada usia produktif, yaitu 20 - 35 tahun. Besarnya angka populasi milenial menjadi tantangan sekaligus peluang yang perlu ditindaklanjuti dengan tepat. Hal ini disebabkan bahwa milenial saat ini hingga masa depan akan mendominasi dunia kerja. Keberadaan mereka dengan potensinya tentunya menunjang atau mendukung roda perekonomian Indonesia. Terlebih, negara telah menetapkan target bahwa Indonesia dapat mencapai status negara dengan berpendapatan tinggi di 2045 serta memberikan standar kehidupan yang lebih tinggi bagi masyarakatnya. Peran dan fungsi pekerja milenial menjadi penting sebagai konsekuensinya. Oleh sebab itu, pemahaman dan perlakuan bagi pekerja milenial tidak dapat dianggap sembarangan.

Salah satu karakteristik bagi pekerja milenial adalah mereka mementingkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Keseimbangan dapat dicapai ketika tidak sekadar milenial memiliki manajemen waktu yang baik, namun komponen dalam pekerjaan memiliki andil bagi milenial untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Komponen pekerjaan yang dimaksud adalah gaya kepemimpinan di tempat kerja, kesempatan pengembangan diri, waktu kerja yang fleksibel, kebijakan cuti atau meninggalkan tempat kerja sebagai prioritas, dan dukungan tempat kerja. Komponen ini sejalan dengan penemuan terkait aspirasi milenial dalam memilih pekerjaan, berpindah tempat kerja, dan persepsi terhadap pekerjaan.

Milenial memandang bahwa durasi atau waktu kerja, teman atau lingkungan kerja, peluang pengembangan diri, dan waktu libur atau cuti menjadi sejumlah faktor yang berpengaruh bagi mereka dalam memilih pekerjaan. Selain itu, milenial yang memutuskan berpindah kerja disebabkan beberapa pertimbangan, seperti peluang pengembangan diri, teman atau lingkungan kerja, durasi atau waktu kerja, waktu libur atau cuti, dan kebosanan. Terakhir, milenial memiliki semacam persepsi terhadap pekerjaan yang menjadi aspirasi mereka antara lain bekerja dengan kebebasan berkreativitas, bekerja tidak terikat waktu atau fleksibel, dan bekerja di luar kantor atau tempat kerja.  Penemuan yang dilakukan oleh IDN Research Institute pada 2019 ini menujukkan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah penting dimiliki oleh milenial.

Ditambahkan lagi dengan temuan yang didapatkan dari Nielsen Indonesia bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi isu yang krusial dialami oleh pekerja milenial setelah yang pertama adalah finansial. Singkatnya, perhatian terhadap keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi perlu diutamakan. Urgensinya adalah tidak sekadar mempertahankan pekerja milenial tersebut bertahan di tempatnya bekerja, melainkan mengelola mereka agar dapat bekerja dengan kinerja yang baik sehingga mampu berpengaruh positif terhadap roda perekonomian. Terlebih, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi pada pekerja milenial ternyata telah terbukti mampu memunculkan keterikatan kerja. Pekerja milenial yang memandang bahwa dirinya mencapai keseimbangan antara pekerjaan dan hidup akan menampilkan beberapa ciri dalam sikap dan perilakunya. Ciri-ciri tersebut antara lain memahami visi, misi, tujuan, program, dan peraturan di tempat kerjanya, menyenangi pekerjaan yang mereka lakukan, memiliki motivasi kerja yang tinggi, berupaya selalu meningkatkan kualitas kerjanya, menghasilkan ide-de baru, menghormati pimpinan dan rekannya dalam bekerja, membangun tim kerja yang mumpuni, dan merasa menjadi bagian dari tempat kerjanya. Melalui ciri tersebut, pekerja milenial akan memiliki ketahanan kerja yang lebih baik, merasa antusias dan bangga terhadap pekerjaan, serta menikmati melaksanakan tugas-tugas kerjanya.

Selain keterikatan kerja, pekerja milenial akan merasa lebih puas dalam pekerjaannya jika mereka memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Setelah mereka merasa lebih puas dengan pekerjaannya, pekerja milenial tersebut cenderung akan lebih bertahan di tempat kerjanya. Salah satu faktor yang menimbulkan kepuasan kerja adalah jawal kerja yang fleksibel. Terkait jadwal kerja yang fleksibel, pekerja milenial berkesempatan untuk dapat melakukan hal lainnya bagi kehidupan pribadinya, misalnya melakukan rekreasi, menikmati waktu bersama orang terdekat, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, pekerja milenial diberikan hak untuk tidak bekerja secara terikat atau dituntut karena memiliki wewenang untuk mengatur dan menyeimbangkan pekerjaan serta kehidupan pribadinya. Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ketika pekerja milenial mengalami keterikatan atau kepuasan kerja karena keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya, mereka cenderung akan lebih mampu untuk menampilkan produktivitas yang baik. Tidak hanya itu saja, pekerja milenial juga akan lebih menunjukkan kinerjanya yang baik. Terakhir, pekerja milenial pun cenderung akan bertahan di tempat pekerjaannya. Maka dari itu, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi penting sekali diperhatikan oleh tempat kerjanya.

Akan tetapi, pada kenyataannya bahwa tempat kerja tidak selalu menjamin memberikan kesempatan bagi pekerja, khususnya milenial, untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Berbagai alasan dapat ditemui melalui situasi dan kondisi bisnis, budaya, manajemen, serta pemimpin di tempat kerja. Bisnis selalu berbicara tentang keuntungan dan kesinambungan. Hal ini terkadang mengakibatkan bahwa banyaknya tempat kerja tidak memperhatikan betapa pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bagi para pekerja milenial. Terlebih lagi, sulit sekali bagi tempat kerja yang sedang mengalami proses pertumbuhan dalam bisnisnya untuk mewujudkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, kecuali tempat kerja tersebut memang sudah memahami karakteristik milenial dan pengaruh keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bagi tempat kerja tersebut. Padahal, budaya, manajemen, atau pemimpin dapat menetapkan kebijakan atau memberikan dukungan terhadap keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tetapi praktiknya seringkali tidak sejalan dengan kebutuhan dan harapan bagi pekerja milenial sendiri. Oleh sebab itu, penting untuk menetapkan pihak yang signifikan melalui melakukan perubahan bagi tempat kerja di Indonesia.

Dalam hal ini, penulis menyarankan bahwa pemerintah perlu menetapkan kebijakan cuti khusus terkait kesehatan mental. Melalui cuti kesehatan mental, pekerja milenial mendapatkan kesempatan untuk meliburkan dirinya dari tanggung jawab dan kewajibannya dalam bekerja sehingga dapat menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Tidak seperti cuti tahunan dimana pekerja baru mendapatkan hak cuti ketika telah bekerja selama dua belas bulan berturut-turut, melainkan cuti kesehatan mental ini digunakan setelah tiga sampai dengan enam bulan bekerja bagi pekerja milenial. Hal ini didasari bahwa pekerja milenial selama tiga hingga enam bulan tersebut mengalami proses adaptasi yang dapat saja memberikan tekanan bagi dirinya. Oleh sebab itu, penting bagi pekerja milenial untuk berkesempatan memanfaatkan hak cuti kesehatan mental tanpa harus telah bekerja selama setahun. Selanjutnya, alasan cuti ini diberikan nama cuti kesehatan mental tersendiri adalah karena jikalau disamakan maknanya dan digabung dengan jenis cuti lainnya, persepsi pekerja tentunya dapat berbeda. Jika ditambahkan jenis cuti kesehatan mental, pekerja milenial akan cenderung bersikap positif terhadap tempat kerjanya. Diharapkan melalui cuti kesehatan mental ini dapat memunculkan dampak positif bagi dirinya hingga tempatnya bekerja melalui keterikatan dan kepuasan kerja. Maka dari itu, kesehatan mental bagi pekerja milenial terjaga dan tempatnya bekerja dapat berpeluang memiliki pekerja milenial yang produktif dan bertahan bekerja di tempatnya. Oleh sebab itu, harapan melalui cuti kesehatan mental ini dapat menunjang pencapaian pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia secara positif serta mendukung pencapaian target tahun 2045 sebagai negara yang berstatus berpendapatan tinggi, yang nantinya dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved