Artikel
Destiadi Pindonta Surbakti
Mengelola Energi dan Sumber Daya Alam yang Bermanfaat

APLIKASI UNTUK KONSEP SMARTHOUSE PADA KONSTRUKSI MASA DEPAN DALAM MENGEMBANGKAN ENERGI TERBARUKAN

Masalahpencemaranlimbahplastik di Indonesia bukan lagi cerita baru. Masalah ini semakin besar karena kurangnya efisiensi ketergantungan masyarakat terhadap plastik. Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton / tahun di mana sebanyak 3,2 juta ton adalah sampah plastik yang dibuang ke laut. Data ini membuktikan bahwa Indonesia adalah negara kedua setelah Cina dengan jumlah sampah plastikterbanyak di dunia.

Iniharusmenjadiinsentifbagi Indonesia untukmulaimeminimalkanpenggunaanplastikdan yang paling pentingadalahbagaimanainovasidapatlahiruntukmengembangkanenergiterbarukanmelaluilimbahplastik, terutamadalamrekayasakonstruksibangunan. Mengingat bahwa Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada tahun 2030 di mana akan ada lebih banyak penduduk, permintaan akan perumahan juga akan meningkat. Dari sisi ini, digunakan bagaimana konstruksi bangunan ramah lingkungan dapat segera disajikan kepada masyarakat serta memainkan peran langsung sebagai penyeimbang lingkungan. Konsep konstruksi bangunan yang dapat mengembangkan kuliah terbarukan disebut konsep Smarthouse.

Konsep Smarthouse memodelkan konstruksi bangunan untuk mendukung energi terbarukan dengan mengelola limbah rumah tangga seperti air cuci, kotoran, sampah plastik, dan lainnya secara otomatis sesuai dengan bagian masing-masing dalam konstruksi bangunan yang telah disesuaikan. Selain ditinjau dari model konstruksi bangunan yang mendukung lingkungan, konsep Smarthouse dilihat dari bahan bangunan yang digunakan di mana bahan tersebut berasal dari limbah olahan dan ramah lingkungan dan ada beberapa bagian dari aplikasi Green Building.

Pemodelan konstruksi bangunan dirancang untuk mendukung bangunan / rumah yang ramah lingkungan. Dengan model konstruksi ini, banyak hal yang "terbuang" dikelola menjadi energi baru yang berguna untuk kebutuhan rumah tangga / manusia di rumah. Dimulai dengan desain pipa khusus yang nantinya akan mendistribusikan kotoran / kotoran ke dalam "Bak Pengolahan" sehingga bisa menghasilkan biogas. Hasil pengolahan ini berupa pulp yang kemudian disalurkan ke pipa terakhir ke kebun / halaman yang berguna sebagai pupuk alami untuk tanaman. Konstruksi pipa lainnya adalah melakukan proses ultrafiltrasi dalam air cuci / air bekas dan melalui indikator tertentu jika masihlayakdigunakanmakaakandisalurkankembaliketangki air.

Bahan bangunan yang digunakan sekarang beralih ke menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah inovasi batu bata yang terbuat dari bahan Black Charcoal yang memiliki kemampuan untuk menyerap polusi di sekitarnya seperti gas CO, CO2, dan sebagian darinya. Inovasi ini belum diuji, tetapi komposisi 70% Arang Hitam menjadi batu bata ramah lingkungan dapat membantu sirkulasi udara di dalam ruangan juga. Bahan bangunan untuk masa depan harus dikurangi bahkan jika perlu menghilangkan penggunaan kayu sebagai bahan bangunan karena kondisi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan terutama pembalakan yang tidak terkendali.

Aplikasi Green Building dapat diterapkan dalam konsep ini dan salah satunya adalah memanfaatkan tanaman hijau ke atap rumah / bangunan. Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh dengan memaksimalkan "Green Roof" sebagai atap rumah / bangunan yang membantu sirkulasi udara di dalam ruangan dengan proses fotosintesis yang berjalan dan mampu menyeimbangkan suhu ruangan. Selain itu, dari proses fotosintesis tanaman, dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik ramah lingkungan yang berfungsi sebagai penerangan di dalam ruangan. Proses ini terjadi secara singkat ketika tanaman melakukan fotosintesis dengan mengubah air dan nutrisi tanah dan CO2 dari udara menggunakan sinar matahari menjadi glukosa (C6H12O6) dan oksigen. Setelah itu glukosa dimanfaatkan oleh tanaman untuk menghasilkan elektron residu yang akan dibuang ke tanah melalui akar. Zat limbah ini akan terurai oleh bakteri dan menghasilkan CO2, proton dan elektron. Elektron ini kemudian dikumpulkan oleh elektroda dan dihubungkan ke sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik, tanpamengganggupertumbuhantanaman.

Smarthouseakandilengkapidengan sistem sensor pada layar yang telah melekat pada bagian rumah / bangunan, yang terhubung ke bagian konstruksi. Fitur yang tersedia di layar sensorik ini adalah sebagai berikut.

  1. Problem-Feature

Fitur ini berfungsi untuk mengetahui apakah konstruksi mengalami penuaan / kerusakan / kebocoran pipa dan masalah lainnya. Biasanya terjadi padabagiandindingataukeramik yang mengalamiretakataumenua.

  1. Situation-Feature

Berfungsi untuk menentukan dan mendeteksi ketersediaan biogas, status udara dalamruangan, dandeteksibahaya yang mengancamkonstruksibangunan.

  1. Solution-Feature

Untuk setiap masalah yang terjadi di bagian bangunan, maka akan ada solusi langsung dari layar sensor sehingga mempercepat proses perbaikan. Semuanya dapat ditangani dengan jelas mengenai kebutuhan apa dan seberapa banyak untuk mengatasi masalah ini. Misalnya masalah pencahayaan membutuhkan berapa banyak tanaman untuk berfotosintesis atau berapa banyak semen, air, kapur, pasir, dan batu bata Black Charcoal perlu untuk memperbaiki dinding yang rusak. Selanjutnya, akan diarahkan tentang perawatan apa yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan setiap kondisi bangunan.

Pada akhirnya, dapat sampaikan di sini adalah konstruksi ini sangat cocok untuk dikembangkan terutama dalam berurusan dengan bonus demografi pada tahun 2030 untuk mengurangi polusi, ketergantungan pada plastik, dan mulai membiasakan diri menggunakan energi terbarukan dalam aspek Konstruksi Sipil. Jadi bangunan memainkan peran besar dalam membuat lingkungan sehat melalui desain konstruksi yang secara otomatis akan mengelola limbah dan dari bahan konstruksi itu sendiri memiliki peran sebagai agen ramah lingkungan. Semua bagian bangunan dikendalikan dan dipantau melalui layar sensor yang mampu mendeteksi bagian-bagian bangunan, ketersediaan energi terbarukan, dan menyediakan solusi untuk setiap deteksi masalah yang terjadi di ruangan.

 

REFERENSI

         Kumar Parashar & Rinku Parashar, “Konstruksi Bangunan Ramah Lingkungan menggunakan Pendekatan Bangunan Hijau”, JurnalInternasionalRisetIlmiah&Rekayasa Vol.3, 2012.

http://www.ijser.org

         diunduhpada 25 Oktober 2019 pukul 15.06

Mclendon, Russell. 2013. Ilmuwan Meretas Fotosintesis untuk Listrik.

              https://www.mnn.com/earth-matters/energy/blogs/scientists-hack-photosynthesis-for- listrik (26 Oktober 2019)



Kembali ke artikel lainnya readers
© Copyright 2019. All Rights Reserved